TRIBUN-TIMUR.COM - Konon di
Kerajaan Luwu, ada seorang pemuda benama Sawerigading, Ia adalah putra Raja
Luwu, Batara Lattu atau La Togeq Langiq.
Sang Raja mempunyai dua istri,
yaitu satu dari golongan manusia biasa (penduduk dunia nyata) bernama We Opu
Sengngeng, dan satu lagi berasal dari bangsa jin.
Dari perkawinannya dengan We Opu
Sengengeng lahir sepasang anak kembar emas, yakni seorang laki-laki bernama
Sawerigading, dan seorang perempuan bernama We Tenriabeng.
Nama Sawerigading diambil dari
dua suku kata yakni Sawe yang artinya menetes (lahir) dan ri gading arinya di
atas bambu betung.
Jadi, sawarigading berarti
keturunan dari orang yang menetas (lahir) di atas bambu betung.
Ketika Bataraguru, kakek
Sawerigading yang disebut sebagai keturunan dewa, pertama kali turun ke
bumi, ia ditempatkan di atas bambu
betung.
Berdasarkan ramalan Batara Guru
(ayah Raja Luwu), Sawerigading dan We Tenriabeng kelak akan saling jatuh cinta
dan menikah.
Padahal menurut adat setempat,
seseorang sangat pantang menikahi saudara kandung sendiri.
Agar tidak melanggar adat
tersebut, Raja Luwu pun membesarkan kedua anak kembarnya tersebut secara terpisah.
Ia menyembunyikan anak perempuannya (We Tenriabeng) di atas loteng istana sejak
masih bayi.
Waktu terus berjalan.
Sawerigading tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan, sedangkan We
Tenriabeng tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita. Namun, sepasang anak kembar
tersebut belum saling mengenal.
Pada suatu hari, Sawerigading
bersama sejumlah pengawal istana diutus oleh ayahnya berlayar ke Negeri
Taranati (Ternate) untuk mewakili Kerajaan Luwu dalam sebuah pertemuan para
pangeran.
Namun sebenarnya tujuan utama
Sawerigading diutus pergi jauh ke Ternate karena saudara kembarnya We
Tenriabeng akan dilantik menjadi bissu dalam sebuah upacara umum, yang tentu
saja tidak boleh dihadirinya karena dikhawatirkan akan bertemu dengan We
Tenriabeng.
Dalam perjalanan menuju ke Negeri
Ternate, Sawerigading mendapat kabar dari seorang pengawalnya bahwa ia
mempunyai saudara kembar yang cantik jelita. Sawerigading tersentak kaget
mendengar kabar tersebut.
“Apa katamu? Aku mempunyai
saudara kembar perempuan?” tanya Sawerigading dengan kaget.
“Benar, Pangeran! Saudaramu itu
bernama Tenriabeng. Ia disembunyikan dan dipelihara di atas loteng istana sejak
masih kecil,” ungkap pengawal itu.
Sekembalinya dari Ternate,
Sawerigading langsung mencari saudara kembarnya yang disembunyikan di atas
loteng istana.
Tak pelak lagi, Sawergading
langsung jatuh cinta saat melihat saudara kembarnya itu dan memutuskan untuk
menikahinya. Raja Luwu Batara Lattu’ yang mengetahui rahasia keluarga istana
tersebut terbongkar segera memanggil putranya itu untuk menghadap.
“Wahai, Putraku! Mengharap
pendamping hidup untuk saling menentramkan hati bukanlah hal yang keliru. Tapi,
perlu kamu ketahui bahwa menikahi saudara kandung sendiri merupakan pantangan
terbesar dalam adat istiadat kita. Jika adat ini dilanggar, bencana akan
menimpa negeri ini. Sebaiknya urungkanlah niatmu itu, Putraku!” bujuk Raja Luwu
Batara Lattu’.
Namun, bujukan Ayahandanya
tersebut tidak menyurutkan niat Sawerigading untuk menikahi adiknya. Namun,
akhirnya Sawerigading mengalah setelah We Tenriabeng memberitahunya bahwa di
Negeri Cina (bukan Cina di Tiongkok, tapi di daerah Tanete, Kabupetan Bone,
Sulawesi Selatan) mereka mempunyai saudara sepupu yang sangat mirip dengannya.
“Bang! Pergilah ke Negeri Cina!
Kita mempunyai saudara sepupu yang bernama We Cudai. Ayahanda pernah bercerita
bahwa aku dan We Cudai bagai pinang dibelah dua,” bujuk We Cudai.
“Benar, Putraku! Wajah dan
perawakan We Cudai sama benar dengan adikmu, We Tenriabeng,” sahut Raja Luwu
Batara Lattu’.
Untuk membuktikan kebenaran
kata-katanya, We Tenriabeng memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan
cincinnya kepada Sawerigading. We Tenriabeng juga berjanji jika perkataannya
tidak benar, ia berbersedia menikah dengan Sawerigading.
“Bang! Jika rambut ini tidak sama
panjang dengan rambut We Cudai, gelang dan cincin ini tidak cocok dengan
pergelangan dan jarinya, aku bersedia menikah dengan Abang,” kata We
Tenriabeng.
Akhirnya, Sawerigading pun
bersedia berangkat ke Negeri Cina, walaupun dihatinya ada rasa kecewa kepada
orang tuanya karena tidak diizinkan menikahi adiknya.
Untuk berlayar ke Negeri Cina,
Sawerigading harus menggunakan kapal besar yang terbuat dari kayu welérénngé
(kayu belande) yang mampu menahan hantaman badai dan ombak besar di tengah
laut.
“Wahai, Putraku! Untuk memenuhi
keinginanmu memperistri We Cudai, besok pergilah ke hulu Sungai Saqdan menebang
pohon welérénngé raksasa untuk dibuat perahu!” perintah Raja Luwu Batara
Lattu’.
Keesokan harinya, berangkatlah
Sawerigading ke tempat yang dimaksud ayahnya itu. Ketika sampai di tempat itu,
ia pun segera menebang pohon raksasa tersebut. Anehnya, walaupun batang dan
pangkalnya telah terpisah, pohon raksasa itu tetap tidak mau roboh.
Namun, hal itu tidak membuatnya
putus asa. Keesokan harinya, Sawerigading kembali menebang pohon ajaib itu,
tapi hasilnya tetap sama. Kejadian aneh ini terulang hingga tiga hari
berturut-turut. Sawerigading pun mulai putus asa dan hatinya sangat galau memikirkan
apa gerangan penyebabnya.
Mengetahui kegalauan hati
abangnya, pada malam harinya We Tenriabeng secara diam-diam pergi ke hulu
Sungai Saqdan.
Sungguh ajaib! Hanya sekali
tebasan, pohon raksasa itu pun roboh ke tanah. Dengan ilmu yang dimilikinya, We
Tenriabeng segera mengubah pohon raksasa itu menjadi sebuah perahu layar yang
siap untuk mengarungi samudera luas.
Keesokan harinya, Sawerigading
kembali ke hulu Sungai Saqdan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pohon
welérénngé raksasa yang tak kunjung bisa dirobohkannya kini telah berubah
menjadi sebuah perahu layar.
“Hai, siapa yang melakukan semua
ini?” gumam Sawerigading heran.
“Ah, tidak ada gunanya aku
memikirkan siapa yang telah membantuku membuat perahu layar ini. Yang pasti aku
harus segera pulang untuk menyiapkan perbekalan yang akan aku bawa berlayar ke
Negeri Cina,” pungkasnya seraya bergegas pulang ke istana.
Setelah menyiapkan sejumlah
pengawal dan perbekalan yang diperlukan, berangkatlah Sawerigading bersama
rombongannya menuju Negeri Cina.
Dalam perjalanan, mereka menemui
berbagai tantangan dan rintangan seperti hantaman badai dan ombak serta
serangan para perompak.
Namun, berkat izin Tuhan Yang
Mahakuasa, Sawerigading bersama pasukannya berhasil melalui semua rintangan
tersebut dan selamat sampai di tujuan.
Setibanya di Negeri Cina,
Sawerigading mendengar kabar bahwa We Cudai telah bertunangan dengan seorang
pemuda bernama Settiyabonga.
Namun, hal itu tidak menyurutkan
niatnya untuk melihat langsung kecantikan wajah We Cudai. Untuk itu, ia pun
memutuskan untuk menyamar menjadi pedagang orang oro (berkulit hitam).
Untuk memenuhi penyamarannya, ia
harus mengorbankan satu nyawa orang oro sebagai tumbal. Pada mulanya, orang oro
yang akan dijadikan tumbal tersebut mengiba kepadanya.
“Ampun, Tuan! Jika kulit saya
dijadikan pembungkus tubuh Tuan, tentu saya meninggal.”
Namun, setelah Sawerigading
membujuknya dengan tutur kata yang halus, akhirnya orang oro itu pun bersedia
memenuhi permintaannya. Setelah itu, Sawerigading segera menuju ke istana
sebagai oropedagang. Setibanya di istana, ia terkagum-kagum melihat kecantikan
We Cudai.
“Benar kata Ayahanda, We Cudai
dan We Tenriabeng bagai pinang dibelah dua. Perawakan mereka benar-benar
serupa,” ucap Sawerigading.
Setelah membuktikan kecantikan We
Cudai, Sawerigading segera mengirim utusan untuk melamarnya dan lamarannya pun
diterima oleh keluarga istana Kerajaan Cina.
Namun, sebelum pesta pernikahan
dilangsungkan, We Cudai mengirim seorang pengawal istana untuk mengusut siapa
sebenarnya calon suaminya itu.
Suatu hari, utusan itu mendekati
perahu layar Sawerigading yang tengah bersandar di pelabuhan. Kebetulan, saat
itu para pengawal Sawerigading yang berbulu lebat sedang mandi.
Utusan itu ketakukan saat melihat
tampang mereka yang dikiranya “orang-orang biadab” dan mengira bahwa wujud
Sawerigading serupa dengan mereka.
Ia pun segera kembali ke istana
untuk menyampaikan kabar tersebut kepada We Cudai. Mendengar kabar tersebut, We
Cudai pun berniat untuk membatalkan pernikahannya dan mengembalikan semua mahar
Sawerigading.
Sawerigading yang mendengar kabar
buruk tersebut segera menghapus penyamarannya sebagai orangoro dan mengenaikan
pakaian kebesarannya, lalu segera menghadap Raja Cina. Sesampainya di istana,
ia pun segera menceritakan asal-usul dan maksud kedatangannya ke Negeri Cina.
“Ampun, Baginda Raja! Perkenalkan
nama Ananda Sawerigading Putra Raja Luwu Batara Lattu’ dari Sulawesi Selatan.
Ananda datang menghadap membawa amanat Ayahanda, dengan harapan sudilah kiranya
Baginda menerima Ananda sebagai menantu Baginda,” ungkap Sawerigading.
“Hai, Anak Muda! Kamu jangan
mengaku-ngaku! Apa buktinya bahwa kamu adalah putra dari saudaraku itu?” tanya
Raja Cina.
Sawerigading pun segera
memperlihatkan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin pemberian We Tenriabeng
kepada Raja Cina seraya menceritakan semua kejadian yang dialaminya hingga ia
bisa sampai ke Negeri Cina. Mendengar harapan dan permohonan saudaranya melalui
keponakannya itu, Raja Cina terdiam sejenak, lalu berkata:
“Baiklah! Sekarang aku percaya
bahwa kamu adalah keponakanku. Ayahandamu dulu pernah mengirim kabar kepadaku
bahwa ia mempunyai anak kembar emas. Anaknya yang perempuan wajah dan
perawakaannya serupa dengan putriku.”
Untuk lebih meyakinkan dirinya,
Raja Cina segera memanggil putrinya untuk menghadap. Tak berapa lama, We Cudai
pun datang dan duduk di samping ayahandanya. Saat melihat pemuda tampan yang
duduk di hadapan ayahandanya, We Cudai tampak gugup dan hatinya tiba-tiba
berdetak kencang. Rupanya, ia jatuh hati kepada pemuda itu yang tak lain adalah
Sawerigading.
“Ada apa gerangan Ayahanda
memanggil Ananda?” tanya We Cundai tertunduk malu-malu.
“Wahai Putriku, ketahuilah!
Sesungguhnya orang yang melamarmu beberapa hari yang lalu ternyata sepupumu
sendiri. Namanya Sawerigading. Ayahanda bersaudara dengan ayahnya. Tapi, untuk
menyakinkan kebenaran ini, cobalah kamu cocokkan panjang rambut ini dengan
panjang rambutmu dan pakailah gelang dan cincin ini!” pinta Raja Cina seraya
memberikan sehelai rambut, sebuah gelang dan cincin itu kepada putrinya.
Setelah We Cudai mengenakan
gelang dan cincin tersebut, maka semakin yakinlah Raja Cina bahwa Sawerigading
benar-benar keponakannya. Gelang dan cincin tersebut semuanya cocok dikenakan
oleh We Cudai. Begitu pula rambutnya sama panjangnya dengan rambut We
Tenriabeng.
“Bagaimana, Putriku! Apakah kamu
bersedia menerima kembali lamaran Sawerigading untuk mempererat tali
persaudaraan kita dengan keluarga Sawerigading di Sulawesi Selatan?” tanya Raja
Cina.
“Baik, Ayahanda! Jika Ayahanda
merestui, Ananda bersedia menikah dengan Sawerigading. Ananda mohon maaf karena
sebelumnya mengira Sawerigading bukan dari keluarga baik-baik,” jawab We Cudai
malu-malu.
Betapa bahagianya perasaan Raja
Cina mendengar jawaban putrinya itu. Demikian pula yang dirasakan Sawerigading
karena lamarannya diterima.
Dengan perasaan bahagia, ia
segera kembali ke kapalnya untuk menyampaikan berita gembira itu kepada para
pengawalnya dan memerintahkan mereka untuk mengangkat semua barang bawaan yang
ada di perahu ke istana untuk keperluan pesta.
Tiga hari kemudian, pesta
pernikahaan itu pun dilangsungkan dengan meriah. Segenap rakyat Negeri Cina
turut berbahagia menyaksikan pesta pernikahan tersebut.
Setahun kemudian, Sawerigading
dan We Cudai dikaruniai oleh seorang anak dan diberi nama La Galigo.
Namun, bagi We Cudai, kebahagiaan
tersebut terasa belum lengkap jika belum bertemu dengan mertuanya. Suatu hari,
ia pun mengajak suaminya ke Sulawesi Selatan untuk mengunjungi mertuanya.
Mulanya, Sawerigading menolak
ajakan istrinya, karena ia sudah berjanji tidak ingin kembali ke kampung
halamannya karena kecewa kepada kedua orang tuanya yang telah menolak
keinginannya menikahi saudara kembarnya. Namun, karena istrinya terus
mendesaknya, akhirnya ia pun menyetujuinya.
Keesokan harinya, berangkatlah
sepasang suami istri itu bersama beberapa orang pengawal menuju Negeri Luwu.
Akan tetapi, mereka tidak membawa serta putra mereka (La Galigo) karena masih
bayi.
Dalam perjalanan, Sawerigading
bersama rombongannya kembali menemui banyak rintangan. Perahu yang mereka
tumpangi hampir tenggelam di tengah laut karena dihantam badai dan gelombang
besar. Berkat pertolongan Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pun selamat sampai di
Nengeri Luwu.
Setelah bertahun-tahun lamanya
Sawerigading bersama istrinya tinggal di Negeri Luwu terdengarlah kabar bahwa
di Tanah Jawa berkembang ajaran agama Islam.
Sawerigading pun segera
memerintahkan pasukannya untuk memerangi ajaran tersebut. Namun apa yang
terjadi setelah pasukannya tiba di Tanah Jawa?
Rupanya, mereka bukannya
memerangi penganut ajaran agama tersebut, tetapi justru berbalik memeluk agama
Islam. Bahkan sebagian anggota pasukannya memutuskan untuk menetap di Tanah
Jawa.
Sementara anggota pasukan lainnya
kembali ke Negeri Luwu untuk melaporkan kabar tersebut kepada Sawerigading dan
sekaligus mengajaknya untuk memeluk agama Islam.
Karena kesal atas penghianatan
pasukannya itu dan tidak ingin masuk agama Islam, Sawerigading bersama istrinya
memutuskan untuk kembali ke Negeri Cina dan berjanji tidak ingin menginjakkan
kaki lagi di Negeri Luwu.
Dalam perjalanan pulang ke Negeri
Cina, kapal yang mereka tumpangi karam di tengah laut. Konon, pasangan suami
istri tersebut menjadi penguasa buriq liu atau peretiwi (dunia bawah laut). (*)
Artikel ini telah tayang di
Tribun-Timur.com dengan judul Kisah Sawerigading, Putra Raja Luwu yang Berniat
Menikahi Adik Kandungnya Sendiri,
https://makassar.tribunnews.com/2022/07/22/kisah-sawerigading-putra-raja-luwu-yang-berniat-menikahi-adik-kandungnya-sendiri?page=all.
TEMPO.CO, Jakarta – Kabar gembira
bagi pecinta sastra dan sejarah. Salah satu warisan dunia Unesco, naskah La
Galigo, sudah bisa diakses secara online di seluruh dunia. Perpustakaan
Universitas Leiden, Belanda, telah mendigitalisasikan naskah La Galigo yang
terdaftar di Unesco pada 2011 itu.
Naskah dan gambar dapat diunduh
untuk bahan pengajaran dan penelitian dari koleksi digital perpustakaan
tersebut. Naskah La Galigo merupakan epos terbesar di dunia, ditulis dalam
bahasa dan aksara Bugis. Marrik Bellen, Direktur KITLV-Jakarta menjelaskan
digitalisasi ini terwujud berkat kerjasama beberapa pihak.
“Digitalisasi naskah La Galigo
yang disimpan di Leiden ini terwujud berkat bantuan dari Yayasan La Galigo,”
ujar Bellen,” ujarnya dalam rilis yang diterima Tempo . Versi digital naskah
ini secara resmi akan dicetak ulang jilid I-II dan edisi baru jilid III akan
diluncurkan pada 19 Agustus 2017 mendatang dalam seminar di Universitas
Hasanuddin, Makassar.
Bellen juga menjelaskan naskah
yang tersimpan di Leiden ini (NBG-Boeg 188) terdiri dari 12 bagian dan mencakup
bagian pertama dari puisi epik Bugis. Bagian ini menceritakan asal-muasal
manusia menurut tradisi Sulawesi Selatan.
Cerita ini merupakan fragmen
terpanjang di dunia. Ditulis di Makassar sekitar 1852-1858 oleh Colliq Pujié
(Arung Pancana Toa), Ratu Tanete dari suatu kerajaan kecil di Sulawesi Selatan.
Naskah ini adalah bagian dari Koleksi Naskah Bugis dan Makassar dari Nederlands
Bijbelgenootschap yang sejak 1905 tersimpan tetap di Perpustakaan Universitas
Leiden.
Sebagian besar naskah-naskah La
Galigo yang dilestarikan disimpan di Indonesia dan Belanda. Seperti halnya satu
naskah La Galigo lain, yang disimpan di Museum La Galigo di Makassar, pada 2011
naskah La Galigo di Leiden tercatat dalam daftar ‘Memory of the World’ UNESCO.
“Ini menggarisbawahi makna penting naskah La Galigo ini di dunia,” ujar Bellen.
Naskah ini pun menjadi inspirasi
di dunia seni lainnya. La Galigo juga dikenal sebagai I La Galigo, suatu karya
musik oleh Robert Wilson, seniman dan Direktur Teater Avant-Garde Amerika.
Pertunjukan perdananya yang didasarkan atas La Galigo dipentaskan di Singapura
pada 2004. Dalam seri video online ‘Wereldschatten’ (Harta Karun Dunia), Gert Oostindie,
Direktur Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies
(KITLV) dan Profesor Sejarah Karibia pada Universitas Leiden, menegaskan
pentingnya naskah La Galigo di Leiden itu.
Bellen juga menjelaskan pada 14
September 2017 nanti, Ratu Belanda Máxima akan membuka Asian Library yang
menjadi bagian dari Leiden Asia Year. Asian Library merupakan perpustakaan baru
yang menaungi koleksi Leiden yang besar dan termasyhur tentang Asia, termasuk
naskah La Galigo.
Oleh: Dian Yuliastuti
Sumber gambar fitur:
https://fr.wikipedia.org
Sumber:
https://www.tempo.co/read/news/2017/08/05/114897318/naskah-la-galigo-kini-bisa-diakses-secara-online#MC051C8064OxroKC.99
Sobat Lontara, batik yang dikenal
sebagai warisan budaya Indonesia, seringkali dikaitkan dengan kebudayaan Jawa.
Hal ini disebabkan karena sentra-sentra kerajinan batik terbaik di tanah air
dapat ditemukan di pulau tersebut, seperti di Pekalongan, Lasem, Cirebon,
Yogyakarta dan Surakarta. Namun demikian, sebuah penelitian pada tahun 2022
silam memberikan fakta yang mengejutkan. Sehelai kain batik yang didapuk
sebagai tertua di Indonesia ternyata berasal dari Toraja.
Kata batik sebagai sebuah teknik
dekoratif ataupun obyek tidak ditemukan di dalam sumber-sumber Jawa kuno yang
melimpah. Para ahli berusaha merekonstruksi eksistensi batik di masa lalu lewat
penafsiran kata tulis yang terdapat pada prasasti sima dari abad ke-12. Tulis
yang berarti tulisan atau menggambar, berkaitan dengan teknik pembubuhan suatu
pola pada kain dengan aplikasi warna. Namun kata batick justru pertama kali
tercatat pada dokumen kapal dagang tahun 1641 yang berlayar dari Batavia menuju
Bengkulu di pesisir barat Sumatra. Pada abad ke-18, kata batex digunakan oleh
bangsa Eropa untuk menyebut kain katun putih berkualitas tinggi yang “dicat”
dengan gaya lokal Jawa. Pada masa itu, batik diproduksi dengan bahan kain katun
lokal, yang sering digunakan untuk membuat selendang atau penutup bahu. Batik
mulai dikenal luas di luar Asia Tenggara setelah Stamford Raffles menulis
tentang proses pembuatan batik dalam bukunya History of Java pada tahun 1817.
Buku ini jadi titik awal batik mendapat perhatian dunia dan mulai banyak
diteliti.
Selain di Indonesia, seni
membatik juga dapat ditemukan di negeri jiran, Malaysia. Batik di Malaysia
sendiri tumbuh lewat pengaruh hubungan perdagangan antara Kerajaan Melayu di
Jambi dan kota-kota pesisir Jawa sejak abad ke-13. Batik Jawa dan batik Jambi inilah
yang kemudian menjadi inspirasi dalam pengembangan kerajinan batik di
Semenanjung Malaya. Hari ini, jika ditinjau baik dari segi teknik maupun ragam
hias, batik Malaysia menunjukkan karakteristik yang amat berbeda dengan batik
dari Pulau Jawa. Pada tahun 2009, batik diakui secara internasional sebagai
Warisan Budaya Tak Benda dari Indonesia oleh UNESCO. Agar tidak disalahpahami,
pengakuan ini diberikan bukan kepada batik sebagai benda, melainkan kepada seni
proses pembuatan kain menggunakan teknik tertentu yang menghasilkan warna dan
pola dekoratif khas.
Pola pada kain batik yang
ditemukan di Toraja. Sumber: Sardjono & Buckley.
Sepotong kain dari Toraja,
Sulawesi Selatan, yang tersimpan di koleksi Thomas Murray di Amerika Serikat
ternyata menjadi pintu kita untuk menelusuri batik di masa lalu. Kain berbentuk
panjang dan sempit ini lazim disebut disebut dengan nama sarita, kain ritual
yang sering digunakan dalam upacara adat Toraja. Dua orang peneliti, Sandra
Sardjono dan Christopher Buckley dari Yayasan Tracing Patterns di Berkeley,
California melakukan uji karbon (C-14) untuk mengetahui usia kain tersebut.
Mereka memilih meneliti kain Toraja tersebut sebab kain itu menunjukkan jejak
teknik batik pada desainnya.
Hasil uji karbon Sardjono dan
Buckley memberikan dua kemungkinan rentang waktu yang mengejutkan: antara tahun
1277 dan 1308 M (dengan probabilitas 64%) serta antara tahun 1363 dan 1385 M
(dengan probabilitas 31%). Dengan kata lain, kain ini kemungkinan ditenun pada
akhir abad ke-13 hingga pertengahan abad ke-14. Selanjutnya, Sardjono dan
Buckley menarik kesimpulan bahwa kain ini adalah salah satu batik tertua yang
masih bertahan di Indonesia, serta bukti paling awal penggunaan teknik
perintang lilin (wax-resist technique) di Asia Tenggara. Siapa sangka, kain
batik tertua justru merupakan sebuah artefak dari Sulawesi Selatan.
Yang tak kalah menarik, desain
pada kain tersebut menampilkan pasangan hewan yang saling berhadapan dengan
ekor tegak dan jambul di kepala, mengapit struktur menyerupai candi bertingkat,
meskipun hanya atapnya yang masih terlihat. Menurut Sardjono dan Buckley, motif
kuno ini kemungkinan merupakan bagian dari tradisi Hindu-Buddha dalam
menampilkan tekstil pada arsitektur sakral. Motif-motifnya menunjukkan pola
yang mirip dengan pola-pola pada kain ikat dan batik di Sumatra, Jawa, dan
Bali. Asal-usul desain ini masih belum diketahui dengan pasti; bisa jadi
merupakan kreasi asli masyarakat Indonesia atau mungkin terinspirasi oleh kain
impor asal India.
Berdasarkan temuan-temuan di
atas, Sardjono dan Buckley menyimpulkan bahwa meskipun batik ini ditemukan di
Toraja, ada kemungkinan besar bahwa kain ini berasal dari Jawa atau setidaknya
mendapat pengaruh dari tradisi tekstil Jawa pada masa Majapahit. Keberadaannya
di Toraja bisa jadi disebabkan oleh jaringan perdagangan. Kain ini memperkuat
hipotesis bahwa teknik batik telah berkembang lebih awal dari yang selama ini
diduga dan bahwa Majapahit memainkan peran penting dalam penyebaran tekstil di
Nusantara. Posisi kain ini sebagai barang pusaka yang diwariskan turun-temurun
di Toraja pun tak kalah signifikan. Kebudayaan Toraja menjadi kunci penting
yang mengabadikan batik yang tidak lagi dapat ditemukan di Pulau Jawa selama
ratusan tahun lamanya.
Temuan ini membuka wawasan baru
tentang sejarah dan perkembangan batik di Indonesia, serta memperkaya pemahaman
kita tentang keragaman budaya tekstil di Nusantara. Secara keseluruhan,
penelitian Sardjono dan Buckley menantang narasi konvensional tentang asal-usul
batik dan membuka peluang untuk penelusuran-penelusuran lebih lanjut lainnya
mengenai perkembangan dan penyebaran teknik tekstil di Asia Tenggara.
Tarian adat dari Toraja, Sulawesi
Selatan
Referensi:
Sandra Sardjono & Christopher
Buckely, A 700-years old blue and white batik from Indonesia,
https://fltjournal.libraryhost.com/index.php/flt/article/view/7/6?fbclid=IwAR3YiOUn6YOQGiIsyfSqQ7X7nGg_KIuu6QvLhigDYT9jow0xIov6KMtdulU
National Geographic Traveller
Indonesia, Vol 1, No 6, 2009, Jakarta, Indonesia.
Sumber : DISINI
La Galigo
ialah sebagai karya sastra terpanjang di dunia. Lebih panjang daripada epik
India, Mahabarata, dan Ramayana. Juga nisbi lebih panjang daripada epik Yunani,
Homerus. Sayangnya popularitas La Galigo di tanah air masih kurang dibandingkan
epik India. Padahal bagi sebagian masyarakat Bugis yang menganut agama lokal,
kepercayaan Tolotang, posisi La Galigo sebenarnya ialah kitab suci mereka.
Indonesia tak sedikit memiliki
kekayaan warisan budaya tulis yang bernilai tinggai. Bukan saja bernilai
historis, tak sedikit naskah tua yang juga bernilai susastra yang artistik dan
bahkan sarat nilai-nilai spiritual atau keagamaan.
Sebutlah, salah satunya ialah La
Galigo. Sering dikenal dengan nama lain, Sureq Galigo. Atau kadang juga hanya
disebut Galigo. Kitab kuno berbentuk puisi ini berisi mitos penciptaan dari
peradaban Bugis. Bahkan bagi sebagian masyarakat Bugis yang masih menganut
agama lokal, yakni kepercayaan Tolotang, posisi La Galigo ialah kitab suci.
Bukan saja apa yang tertuang
dalam kitab itu sering dianggap benar-benar pernah terjadi, bahkan bagi
penganut agama lokal itu pembacaan La Galigo juga harus disertai ritual.
Sebelum dibaca harus ada persembahan, sesaji, dupa, pemotongan ayam, atau
kambing. Laiknya kitab suci bagi para pemeluk agama secara “tradisional”,
merekapun yakin membaca fragmen kisah-kisah La Galigo ialah sinonin berdoa.
Konon, fungsinya secara magis bisa menjadi “obat” beragam penyakit, menjadi
tolak bala, dan lainnya.
Berbentuk puisi epik, karya ini
awalnya berupa tuturan lisan. Namun memasuki paruh pertama abad 19, karya ini
mulai ditulis. Berbentuk puisi tradisional Bugis atau Lontara. Komposisi bahasa
penyusun puisi ini dianggap indah. Berkualitas susastra tinggi. Menariknya,
tradisi pembacaan La Galigo dilakukan sembari dinyanyikan. Cara melagukan La
Galigo dalam bahasa Bugis disebut laoang atau selleang. Lazimnya dilakukan
dalam sebuah upacara adat. Jadi, sebenarnya bicara La Galigo, selain mewariskan
tradisi tulisan juga tradisi lisan.
Sayangnya, sejalan pudarnya
pengetahuan lokal perihal teks-teks kuno Bugis dan juga rendahnya tingkat
penguasaan masyarakat atas bahasa kuno dan aksara Lontara, maka kini jadi
ancaman tersendiri bagi upaya pewarisan khasanah La Galigo. Aksara Lontara
Bugis atau sering disebut dengan istilah lokal ‘ukiq sulappaq eppaq’ (huruf
segiempat), konon ialah turunan dari aksara Pallawa.
https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550203700_Naskah_Tua.JPG"
style="height:182px; width:493px" />
Halaman Naskah Kuno Bugis La
Galigo Sumber: www.lontaraproject.com
Pun mungkin karena di masa lalu
proses pelestarian naskah-naskah Lontara dan La Galigo itu baik lisan maupun
tulisan secara tradisional cenderung hanya dilakukan oleh keberadaan Bissu,
yang mengemban fungsi kependetaan agama lokal Bugis. Sementara Bissu, sering
disimplifikasikan sebagai fenomena seorang transvestite atau transgender.
Implikasinya, dalam perkembangan masyarakat Bugis kontemporer, hal itu membuat
posisi dan fungsi sosial dari seorang Bissu menjadi termarginalisasikan.
Sejalan dengan terpinggirkannya posisi dan fungsi sosial Bissu ini, sedikit
banyak turut berdampak terpinggirkannya khasanah Lontara dan La Galigo.
Bermaksud mengantisipasi
hilangnya khasanah kuno ini, Indonesia dan Belanda berkolaborasi mengusulkan La
Galigo masuk daftar World Heritage di UNESCO. Kini sejak 2011 naskah kuno La
Galigo telah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World.
Ini berarti semenjak 2011, kini
dan juga nanti ke depan, seluruh upaya pelestarian khasanah La Galigo bukan
saja hanya menjadi tanggung jawab masyarakat pewaris budaya Bugis secara
ekslusif yaitu keberadaan Bissu, tapi juga harus menjadi tanggung jawab negara
atau perintah selaku stake holder pengusul ke UNESCO.
Sejarah, Alur Narasi dan
Popularitas
Merujuk deskripsi UNESCO, La
Galigo disepakati berasal dari abad ke-14, sekalipun sebenarnya bisa jadi
usianya jauh lebih tua. Menariknya, sekalipun La Galigo bukanlah teks sejarah
karena aspek mitologis narasi itu terasa sangat kuat, tetapi teks ini diakui
oleh banyak ilmuwan memiliki pengaruh besar pada bagaimana sejarawan melihat
masa lalu peradaban Bugis. Khususnya, masyarakat Bugis di periode sebelum era
masuknya Islam.
Ditulis dalam format puisi bahasa
Bugis kuno, berupa sajak bersuku lima, naskah La Galigo menceritakan kisah
asal-usul manusia. Bercorak pra-Islam dan bersifat epik-mitologis. Merujuk buku
‘Islamisasi Bugis: Kajian Sastra Atas La Galigo Versi Bottinna I La Déwata Sibawa
I Wé Attaweq’ karya Andi Muhammad Akhmar (2018), struktur isi La Galigo ialah
bercerita tentang mitos penciptaan dunia dan penciptaan manusia atau asal-usul
manusia pertama yang mendiami dunia.
Tokoh utama La Galigo ialah
Sawérigading, cucu Batara Guru. Cerita dimulai dari dunia yang kosong dan
turunnya Batara Guru ke bumi. Alkisah, manusia pertama ini turun di daerah Luwu
di utara Teluk Bone. Batara Guru, sebagai raja digantikan oleh anaknya, La
Tiuleng, dan bergelar Batara Lattu'.
La Tiuleng atau Batara Lattu’
punya anak kembar, yakni Sawérigading dan Wé Tenriabéng. Sengaja keduanya
dibesarkan terpisah. Sebagai saudara kembar mereka baru bertemu lagi saat
menginjak usia dewasa. Sawérigading terpesona dan jatuh hati pada saudara kembarnya.
Sawérigading pun berniat menikahi Wé Tenriabéng.
https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550204098_12121.JPG"
style="height:341px; width:452px" />
Naskah I La Galigo asli yang ada
di Museum I La Galigo Sumber: Istimewa
Rahasia keluarga yang selama ini
disimpan pun dibeberkan. Diceritakanlah kepada Sawérigading, Wé Tenriabéng
sejatinya ialah saudara kembarnya. Sementara itu, kawin saudara sedarah
diyakini bakal mendatangkan bencana. Mengikuti pola tabu inces yang nisbi
universal, cinta Sawérigading jelas bertempuk sebelah tangan.
Kasih yang tak sampai ini
kemudian menghantar Sawérigading pergi merantau ke daratan China. Di sana
Sawérigading bertemu putri yang berwajah sama persis dengan saudari kembarnya.
Bernama Wé Cudaiq, anak seorang raja di daratan China. Setelah melewati
serangkaian kisah dan peristiwa, lahirlah anak laki-laki sebagai buah cinta dan
perkawinan mereka. Anak laki-laki inilah kemudian diberi nama ‘La Galigo’.
Sekembalinya Sawérigading dan Wé
Cudaiq ke Luwuq, kerajaannya yang terdahulu, kapal yang dinahkodainya karam.
Mereka berdua lantas menjadi penguasa ‘dunia bawah’. Sedangkan saudari
kembarnya si-Wé Tenriabéng naik ke alam dewa atau ‘dunia atas’. Tak berselang
lama setelah itu, semua manusia pertama itu dipanggil kembali pulang ke alam
Dewata. Meninggalkan La Galigo dan saudara lainnya di ‘dunia tengah’ dan
menjadi penguasa Luwuq.
Kembali merujuk Akhmar,
disebutkan La Galigo menjadi teks susastra yang populer karena beberapa
kekuatan atau kelebihan. Pertama, isi ceritanya terdiri puluhan episode
(tereng) dengan cara penulisan yang memiliki aturan sastra yang ketat. Isinya
antara lain memuat norma, konsep kehidupan, budaya, silsilah dewa-dewa, dan
asal usul orang Bugis.
Kedua, epos La Galigo juga
ditemukan dalam berbagai versi serta serpihan-serpihannya ditemukan di luar
Sulawesi Selatan seperti di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Gorontalo,
Kelantan, dan bahkan Trengganu (Semenanjung Melayu), dan lain-lain. Selain itu,
teks La Galigo cukup banyak tersebar di berbagai perpustakaan di negara-negara
Eropa maupun Amerika.
Ketiga, warisan budaya Bugis kuno
yang tertera di La Galigo hingga kini masih dilakukan dalam kehidupan
masyarakat Bugis sehari-hari, setidaknya dalam upacara adat mereka. Sebutlah
ritual mappaliliq, misalnya, yaitu upacara turun ke sawah. Juga masih terlihat
tradisi massureq atau maggaligo, yaitu melagukan syair La Galigo, di Kabupaten
Pangkajene, Sidenreng Rappang, Wajo, Soppeng, Barru, dan Luwu. Bahkan
sekelompok masyarakat di Kabupaten Sidenreng Rappang, yang dikenal sebagai
penganut kepercayaan Tolotang, menganggap dirinya sebagai pewaris spiritual
Bugis dan pengikut Sawérigading.
Keempat, sejalan masuknya agama
Islam maka secara susastra muncul fenomena intertekstual. Ini terlihat pada La
Galigo versi ‘Bottinna I La Déwata Sibawa Wé Attaweq. Unsur Islam ini mawujud
sebagai bentuk formula doa berbahasa Arab, menukil ayat Alquran, dan nama-nama
Asmaul Husna. Menariknya, masuknya unsur Islam tidak serta-merta menggeser
kepercayaan lama, melainkan cenderung disajikan berdampingan. Dengan begitu
pada cerita-cerita baru atau yang telah mendapatkan unsur-unsur baru, yaitu
Islam, tetap saja bisa dikatakan bahwa naskah-naskah ini menjadi bagian dari
warisan sastra La Galigo.
https://indonesia.go.id/assets/img/assets/1550204527_Pertemuan_Tahunan_IMF_World_Bank_2018_101018_aez_22_compressed.jpg"
style="height:2699px; width:4049px" />Pementasan La Galigo di Nusa
Dua, Bali. Sumber foto: Antara Foto
Kelima, La Galigo menjadi
perhatian masyarakat dunia setelah Robert Wilson, seorang sutradara avant garde
terkenal dari Amerika Serikat, membawa teks ini ke panggung teater
internasional. Pertamakali dipentaskan di Singapura pada 20-23 Maret 2004.
Selang dua bulan kemudian dipentaskan ke negara-negara Eropa. Bermula dari Amsterdam
pada 12, 14, dan 15 Mei 2004; dilanjutkan ke Barcelona 20-23 Mei 2004; lanjut
di Madrid 30 Mei-2 Juni 2004; menyusul di Lyon Perancis pada 8-10 Juni 2004;
dan berakhir di Ravenna Italia pada 18-20 Juni 2004.
Pementasan teater La Galigo
berlanjut ke negeri Paman Sam. Berlangsung di kota New York pada 13-16 Juli
2004. Dua tahun lebih berselang, La Galigo dipentaskan di Indonesia, yakni di
Jakarta pada 10-12 Desember 2006. Dan barulah setelah melalang dunia hampir
tujuh tahun, La Galigo dibawa pulang dan dipentaskan di tanah kelahirannya
Makasar pada 23-24 April 2011. Pada tahun yang sama ini pulalah, UNESCO
menetapkan La Galigo sebagai Memory of the World dalam bentuk “pusaka
dokumenter” (dokumentary heritage).
Dan terakhir atau keenam, daya
tarik lain dari La Galigo ialah ukuran keseluruhan teks tersebut sangatlah
besar. Diperkirakan terdiri dari 6.000 halaman folio atau 300.000 baris puisi.
UNESCO menggarisbawahi sebagai produk karya sastra yang paling produktif di
dunia. Merujuk Prof Nurhayati Rahman yang menukil pendapat Kern dan Sirtjo
Koolhof dikatakan, La Galigo ialah sebagai karya terpanjang di dunia. Lebih
panjang daripada epik India, yaitu Mahabarata dan Ramayana; juga lebih panjang
daripada epik Yunani, yaitu Homerus. (W-1)
Sumber : DISINI
Lahir di Palu, Sulawesi Tengah,
ia adalah Keturunan Generasi Ke 3 dari Trah Loulembah. Loulembah adalah Sebuah
Marga Yang Berasal dari Sigi Dolo Kabupatem Sigi sekarang.
Loulembah adalah Cucu dari
Arumtasi dan Anak dari Daeng Matalu Trah Kerajaan Bantaya (Negara Kertagama
1365 Masehi), yang kemudian Mendirikan Kerajaan Dolo yang berpusat di Bora
kabupaten Sigi. Loulembah kemudian diangkat menjadi Raja pada Usia 30 tahun
pada rentan abad 18 pertengahan.
Raja Loulembah Kemudian Menjadi
salah satu raja yang pertamakalinya mengangkat senjata untuk melawan Hindia
Belanda Pada akhir abad ke 18 dan awal abad ke 19. Sebelumnya telah ada
perundingan yang ingin memaksa Raja Loulembah Harus tunduk terhadap Hindia
Belanda. Karena Tidak Ingin dijadikan raja boneka oleh pihak Hindia belanda
yang tentu dalam perundingan itu akhirnya tidak menemukan kesepakatan.
Dalam periode perjuangannya Raja
loulembah yang juga dijuluki Pue Sede atau Pue mpobela melakukan perang terbuka
dan perang gerilya baik di darat, pantai, pegunungan maupun lautan.
Upayanya Raja Loulembah itu harus
dibayar mahal dengan kehilangan tempurung lututnya dan memaksa Raja Loulembah
untuk sepenuhnya bergerilya di lembah palu, pegunungan, Dolo, porame, gawalise,
hingga donggala dan Mamuju.
Napak Tilas Raja Loulembah
sejarahnya kini dikenal dengan Desa Lumbu Dolo (Donggala), Buwu Pue Sede
(Talise), Tabaro Raja Dolo (Mamuju), Tapak Kaki Pue Mpobela (Di Pegunugan
Gawalise).
Dalam periode gerilya menjadikan
adanya kekosongan pimpinan di Kerajaan Dolo.
Raja Loulembah kemudian
Menyerahkan jabatannya kepada saudara iparnya Datupamusu (Suami dari Rawaenta
adik bungsu dari Raja Loulembah dan Randa Lembah). Dalam perjalanannya Raja Datupamusu
akhirnya diturunkan Hindia Belanda dari kekuasaanya. akibat perang
berkepanjangan dan strategi mengatur kekuasaan melalui swapraja. Datupamusu
diasingkan akhirnya meneruskan tran Raja Dolo Selanjutnya seperti Raja Gunung
Datupamusu dan Raja Muda dan setelahnga digantikan oleh raja yang dilantik
belanda seterusnya. Demikian sejarah singkat trah Raja Loulembah. Yang kemudian
melahirkan keturunan salahsatunya Ichan Loulembah.
Ichan Loulembah yang kemudian
lulusan SMA Negeri 57 Jakarta, sebelum tak meneruskan pendidikannya. Sangat
aktif di dunia Akademisi. Namun Alih-alih dia tidak meneruskannya, kemudian ia
menjadi Manajer Program Radio "Nebula FM" yang berbasis di Palu.
Sejak 1990, ia menjabat sebagai editor Mingguan Suluh Nasional, juga berbasis
di Palu.
Meski demikian Ican Loulembah
sesekali mengisi sebagai Dosen Tamu di berbagai Universitas Ternama seperti UI
dan Universitas lainnya.
Sumber : DISINI
A. Sejarah Singkat Kecamatan Sigi
Biromaru
Kecamatan Sigi Biromaru merupakan salah satu wilayah
Kecamatan
yang berada dalam wilayah Kabupaten Sigi dengan membawahi 17
desa dan 1
UPT Trans.
Berdasarkan catatan Sejarah Sulawesi Tengah, bahwa
sebelumnya
Sigi merupakan salah satu daerah kerajaan yang dikenal
dengan nama “Kerajaan
Sigi" yang pusat pemerintahannya berkedudukan di Bora,
oleh sebab itu
penggunaan kata Sigi dan kata Biromaru dalam sejarah
pemerintahan di wilayah
ini tidak dapat dipisahkan walaupun antara Sigi dan Biromaru
masing-masing
juga memiliki riwayat atau sejarahnya sendiri-sendiri.
"Sigi" berasal dari kata "Masigi",
karena konon riwayatnya dimana
pada zaman dahulu di wilayah sebelah timur Desa Bora yang
menjadi pusat
pemukiman penduduk waktu itu, tepatnya di daerah yang
sekarang disebut Desa
Sigimpu tiba-tiba ditemukan sebuah masjid dengan lima orang
pegawai
syarahnya yang dilengkapi dengan sebuah beduk dan sebuah
khotbah yang
ditulis di kulit kayu yang oleh masyarakat Sigi disebut Ivo.
Dari kejadian itu, maka orang-orang yang melihat masjid itu
dari
dekat menyebut "Masigimpu" sedangkan mereka yang
melihat dari kejauhan di
atas bukit menyebutnya "Masigira", maka mulai saat
itulah wilayah yang belum
bernama ini oleh masyarakat lazim disebut wilayah
"Sigimpu" dengan
masyarakatnya dijuluki sebagai "Tosigimpu",
sedangkan wilayah yang jauh dari
tempat masjid itu oleh masyarakat disebut wilayah
"Sigira" dengan
masyarakatnya disebut "Tosigira". Demikian julukan
nama untuk wilayah ini,
Sigi Biromaru Dalam Angka 2015 2
http://sigikab.bps.go.id
Geografis
hingga sampai terbentuknya “Kerajaan Sigi” yang menguasai
dua wilayah
tersebut.
Sedangkan Biromaru menurut sejarahnya berasal dari kata
"Biro" yaitu
alang-alang yang sejenis tebu, dan kata "Maru" yang
artinya tua atau lapuk.
Karena konon sebelum wilayah ini dihuni oleh manusia,
wilayah ini masih
merupakan suatu hamparan tanah yang luas ditumbuhi
tanaman-tanaman "Biro"
yakni tanaman alang-alang yang sejenis tebu. Sehingga ketika
datang
sekelompok orang-orang yang berasal dari daerah pegunungan
Lando sekarang
disebut Raranggonau untuk berburu"Moasu" babi di
wilayah ini, karena melihat
kondisi alamnya yang dianggap oleh mereka cukup baik untuk
daerah
pemukiman dan untuk bercocok tanam, maka sekelompok orang-orang
yang
datang "Moasu" itu akhirnya bertekad untuk tidak
mau lagi kembali ke daerah
asalnya di wilayah pegunungan, tetapi bertekad untuk membuka
wilayah ini
sebagai wilayah pemukiman bagi seluruh keluarga mereka.
Dengan tekad tersebut, maka mulai saat itu wilayah ini
menjadi suatu
wilayah pemukiman yang baru dan belum bernama. Namun setelah
sekian lama
mereka menghuni wilayah ini, maka pada suatu ketika dimana
saat mereka yang
menjadi penghuni wilayah ini sedang bekerja untuk memaras
alang-alang yang
berupa tebu itu untuk dijadikan persawahan, tiba-tiba salah
seorang dari mereka
yang bekerja itu menemukan seekor belut dipucuk daun
alang-alang seperti tebu
itu atau dalam bahasa kaili disebut "Biro" yang
sudah tua atau lapuk yang juga
disebut dalam bahasa kaili "Namaru". Dengan
kejadian itu maka mulai saat itu
orang-orang yang tinggal diwilayah ini mulai menyebut daerah
pemukiman
mereka dengan nama "Biro-maru" sedangkan belut
yang didapat di daun "BiroNamaru" tadi dianggap sebagai mustika
kampung dalam bahasa kaili disebut
"Tinuvu-Nungata", dan belut yang dianggap sebagai
"Tinuvu-Nungata" ini
Sigi Biromaru Dalam Angka 2015 3
http://sigikab.bps.go.id
Geografis
hingga sekarang masih tetap disimpan oleh keturunan orang
yang menemukan
pada waktu itu.
Setelah wilayah ini mulai bernama "Biro-maru" maka
mulai saat itu
pula wilayah ini dikenal sebagai suatu wilayah kerajaan
lokal dengan
membentuk sistim kepemimpinan yang dipimpin oleh seorang
Madika dan
dibantu oleh seorang Baligau, seorang Pabicara dan seorang
Tadulako.
Hubungan kerajaan lokal Biromaru dengan kerajaan besar Sigi
saat itu belum
terjalin, namun setelah adanya perkawinan para anggota
keluarga Raja-raja,
barulah antara kedua daerah ini memiliki hubungan
persaudaraan yang sangat
kuat dan bahkan mengikat persaudaraan dengan satu semboyan
"Ane Tori Sigi
Masusa, Tori Biromaru Mageroka Rara" artinya "Jika
orang-orang Sigi sedang
mengalami kesusahan, maka orang-orang Biromarulah yang akan
merasakan
kesusahan itu" demikian semboyan itu berlaku secara
timbal balik antara Sigi
dan Biromaru.
Kemudian setelah diproklamasikan Kemerdekaan Republik
Indonesia
maka terjadilah perubahan-perubahan secara fundamental dalam
mencapai
tujuan negara sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar
1945, dan selanjutnya dinyatakan didalam Undang-Undang Dasar
1945 pada
Pasal 18: Pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan
kecil dengan bentuk
susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang.
Berdasarkan hal tersebut maka pada tanggal 21 Nopember 1964
ditetapkanlah wilayah Distrik Sigi Biromaru menjadi wilayah
Kecamatan Sigi
Biromaru dengan susunan 41 desa. Pada tahun 1997 Kecamatan
Sigi Biromaru
dimekarkan menjadi 2 Kecamatan yaitu Kecamatan Sigi Biromaru
dan
Kecamatan Palolo, kemudian dimekarkan lagi menjadi 3
kecamatan yaitu
Kecamatan Gumbasa dan Kecamatan Tanambulava.
Sumber : DISINI
Sejarah dan Kebudayaan
Masyarakat PESAKU
Sejarah Desa Pesaku.
Menurut sejarah,Tidak ada suatu petunjuk berupa tulisan atau catatan/prasasti yang ditemukan tentang asal usul Ngata/Kampung (Desa Pesaku), yang ada hanyalah tuturan-tuturan dari generasi ke Generasi berikutnya, bahwa Pesaku dahulu adalah salah satu wilayah ngata atau kampung yang dihuni oleh satu komunitas karena terjadinya perpindahan dari 7 (Tujuh) orang yang bersaudara yakni: Ganantina, Yompalemba, Renggelemba, Rajalemba, Rajamani, Kasaria, dan Yolu.
Dari ketujuh orang bersaudara ini bersepakat untuk melakukan perpindahan dari Bulu (Gunung) Ongu Ntovaiyo dan Bulunti. Maksud dari perpindahan yang dilakukan adalah mencari daratan yang dapat digunakan untuk pemukiman dan bercocok tanam. Dalam Perjalanan yang dilakukan salah seorang dari mereka tersebut yakni Ganantina tidak meneruskan perjalanan bersama saudaranya yang lain, Ganantina hanya menyinggahi satu wilayah yang bernama Sitangga. Walaupun, Ganantina sudah singgah namun keenamnya tetap meneruskan perjalanannya sampai menemukan wilayah yang memungkinkan untuk pemukiman dan lahan. Dengan perjalanan waktu yang dilalui dan lamanya waktu yang digunakan untuk menempati wilayah yang ada, maka keenam bersaudara tersebut mencoba melakukan perundingan, pokok utama yang dibahas adalah pemberiaan nama wilayah yang mereka huni. Dan akhirnya mereka menyepakati nama wilayah yang mereka huni tersebut diberi nama “Gelumpa” dengan batas saat itu disepakati bahwa dibagian utara berbatasan dengan Wera dan sebelah selatan berbatasan dengan Marasila.
Hari demi hari berjalan membawa alur cerita kehidupan dan wilayah Gelumpa kian menjadi bertambah penghuninya akibat dari proses keturunan yang dilakukan. Dengan semakin bertambahnya jumlah penghuni Gelumpa maka Gelumpapun menjadi satu wilayah kesatuan hukum yang didalamnya tumbuh nilai nilai dan norma-norma kehidupan sosial, sehingga dengan kondisi tersebut wilayah Gelumpa menjadi sati wilayah yang disebut Ngata Gelumpa.
Dalam proses kehidupan sosial, Ngata Gelumpa juga mengalami peradaban sosial hal itu terjadi pada saat masuknya seorang bernama Rambulemba yang berasal dari daratan kulawi da proses interaksipun terjalin hingga Rambulemba berhasil mempersunting seorang putri asli Ngata Gelumpa. Namun proses asimilasi ini juga tidak bisa terjalin begitu lama karena dalam perjalanan hubungan tersebut muncul konflik yang berujung pada kekerasan, akhirnya konflik antara komunitaspun terjadi di Ngata Gelumpa hingga memakan korban jiwa.
Di tengah konflik antara komunitas yang terjadi saat ini juga bertepatan dengan lahirnya seorang bayi dari hasil perkawinan antara seorang Putri Ngata Gelumpa Dengan Rambulemba sehingga Anak atau bayi yang lahir tersebut diberi nama “Pesaku”
Kelahiran anak yang bernama “Pesaku” sangat memberikan arti tersendiri bagi perseteruaan dari kedua komunitas, karena kedua komunitas yang berseteru kini harus menghentikan perseteruaannya. Dan Akhirnya Nama “Pesaku” bukan hanya diabadikan sebagai nama dari anak yang lahir tersebut tapi nama “Pesaku” juga diabadikan sebagai nama wilayah Ngata Gelumpa dan mulai saat itulah Gelumpa berubah menjadi Pesaku.
Berdasarkan alur sejarah bahwa sebelum wilayah ini menyandang nama desa berdasarkan kebiasaan melalui susunan wilayah administrasi lokal wolayah pesaku disebut Boya atau Ngata dan nama tersebut juga berubah pada saat bangsa Belanda menguasai Negara Kesatuan Republik Indonesia Ngata Pesaku berubah menjadi kampung dan ini sampai tahun 1960-an dan pada tahun 1970-an Ngata atau kampung Pesaku berubah lagi menjadi desa dan perubahan ini terjadi dengan sistimatis karena adanya UU No. 5 tahun 1975 tentang pemerintahan Daerah dan UU No. 5 tahun 1979 tentang pemerintahan Desa.
Etnis, Bahasa dan
Religi
Di Desa Pesaku, mayoritas etnis
adalah suku Kaili khususnya Kaili Edo,”, walau ada etnis
pendatang lainnya seperti dari
etnis jawa dan bugis yang datang di desa Pesaku tapi sangat
sedikit seklai, pendatang
biasanya bisa dari perantaun daerah lain atau menjalin hubungan
ikatan kekeluargaan dengan
masyarakat Desa Pesaku, dan dalam keseharianya masyarakat
desa Pesaku menggunakan bahasa
Kalili dengan dialek Edo untuk berinteraksi dan tidak
jarang menggunakan bahasa
Indonesia saat berinteraksi dengan masyarakat di luar desa atau
pendatang
Sedangkan , untuk agama yang
dianut penduduk desa Pesaku mayoritas memeluk
agama islam. Secara kultural
pegangan agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan
ataupun kekerabatan. Selain itu
juga keyakinan beragama berkembnag berdasarkan turunan
dari orang tua ke anaknya, dan
ini kemudian menjadikan agama islam sebagai agama
mayoritas penduduk desa Pesaku.
Kesenian tradisional
Kesenian Tradisional yang
merupakan warisan budaya masih Nampak dalam
masyarakat Desa Pesaku yaitu
kesenian khas budaya Kaili salah satunya yaitu Tarian Pamonte
dan Tari Pokombu. Namun saat ini
kesenian itu sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan,
disebabkan kurangnya regenerasi
atas kelestarian kesenian tradisional tersebut, serta tidak
adanya perhatian atau pembinaan
dari pihak pemerintah dalam hal ini adalah dinas terkait.
Tarian Pamonte
Pamonte artinya menuai padi,
tarian Pamonte terispirasi dari aktivitas dan kebiasaan
gadis – gadis kaili saat musim
panen, tarian ini menggambarkan kegiatan saat musim panen
tiba, bagaimana para petani
mengelola padi menjadi beras seperti proses memetik,
menumbuk, menapis dan lain -
lain, Pakaian penari Pamonte biasanya menggunakan kebaya
merah yang dihiasi benang emas.
Tarian pamonte diiringi oleh music tradisonal seperti
Ngongi, ganda, dan tarian ini di
iringi oleh nyanyian syair adat, dalam tarian pamonte dipimpin
oleh seoerang penghulu yang
disebut sebagai tadulaku yang berperan memberikan aba – aba
pada penari lainya
Tarian Mokambu
Tarian Mokambu, mupakan tarian
penyambut tamu, tarian ini dibawakan oleh seorang
wanita dengan memeakai sarung
bercorak dan memakai selendang kuning di kepala. Penari
biasanya membawa piring berisi
beras, yang akan dihamburkan kepada para tamu dan
sekaligus memohon doa untuk
kebaikan para tamu.
Legenda atau Mitologi
Mitos dalam masyarakat akiali
merupakan bagaian dari keseharian masyarakat, yang
artinya mitos tidak pernah hilang
dari masyarakat, yang kemudian bahkan diyakini sebagai
kebenaran sejarah, Mitos
nmerupakan bagaian dari tradisi lisandari masyarakat cerita
tersebut berkembang yang pola
pewarisanya melalui tradisi lisan (Nuraedah, 2015)
Di desa Pesaku, terdapat Mitos
yang masih diyakini oleh sebagian masyrakat, yaitu
bahwa gempa bumi diakibatkan oleh
tiang dunia telah di tanduk oleh kerbaunya Sawerigading
yang sedang terlepas dan
mengamuk, akibat tandukan tersebut diyakini membuat tanah
bergeser serta bergerak.
Sawerigading diayakini sebagai
seoerang pelaut dariluar negeri, yang singgah ke Teluk
Kaili untuk menemui dan mengawini
tunanganya yang bernama We Cundai, Cerita tentang
Sawerigadeng juga dikaitkan
dengan Tana-Kaili, saat terjadi pertarungan anatara aning milik
Sawerigagading ynag bergelar
La-Bolang (Si-Hitam) dengan se-ekor belut (lindu), La Bolang
berhasil menyergab belut dan
kemudian belut keluar dari lubangnya, lubang bear yang
menjadi temapt tinggal belut
setelah kosong dan runtuh, akhirnya menjadi danau yang kini
disebut sebagai danau lindu. Dan
belut dibawa olleh la Bolang ke utara dalam keadaan
meronta – rontadan menjadikan
lubang yang dialiri oleh air laut yang deras, aiar yang mengalir
dengan deras seprti air bah yang
tumpah, menyebabkan keringnya air kaili, maka terbentuklah
lembah palu dan terjemalah
tana-kaili (Nuraedah, 2015)
Kearifan Lokal Desa.
Kearifan lokal yang dahulu pernah
diterapkan dan saat ini mulai ditinggalkan adalah
tradisi Vunja Mpae, tradisi Vunja
Mpae dilaksanakan setiap musim panen tiba, sebagai bentuk
rasa syukur atas hasil panen yang
melimpah, dan diyakini juga sebgai bentuk untuk
mengharmoniskan hubungan sosial
anatar masyarakat serta di dalam keluarga.
Penyenggara teknis dalam upacara
Vunja Pae seperti pertama, Bule, predikat seseorang yang
dianggab menjadi bule karena
mempunyai kekuatan atau kesaktian dalam upacara, tugas
Buleadalah mengambil, membawa dan
,membangun, atau menanam tinag vunja berupa
bambu, batang pianag atau kelapa,
Bule yang bertugas harus keturuanan Pondhohigi, nama
ornag yang dianggab sakti dan
ornag yang pertama kali yang ditugaskan mengambil bamboo
sebagai tiang vunja, kedua,
Bayasa penyebuta atau predikat yang disandang seseoarang atau
orang – orang tertentu yang
memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan lam gaib,
atau arwah leluhur (nenek
moyang). Bayasa bertugas pula dalam ritual – ritual yang berkaitan
dengan kehidupan di bumi yang
berhubungan dengan kesejahteraan dan kesuburan.ketiga
adalah Puepanga, pemilik sawah
yang punya hajad dan juga pemilik sawah yang terkena
serangan hama, yang juga akan
menyiapkan ayam atau kambing 1 ekor yang akan
dipersembahkan dalam upacara
selain itu juga menyaipaka kalopa, ketupat, bibit padi tiga ikat
(Nuraedah,2015)
Tradisi Vunja Mpae, di dalam
proses penyelenggaraanya mengandung nilai seperti
(Nuraedah,2015) : seperti
Kerajian yang maknanya akan membuat seseorang yang
malaksanakan tradisi tersebut
akan menjadi ulet dan gigih berjuang untuk kesempurnaan,
tolong menolong ( Nusiale Pale),
Sintuvu (Gotong Royong), Ucapan syukur, Kekeluargaan,
memunculkan nilai kearifan lokal.
Sejarah Kepemimpinan Desa
Menurut penuturan Kepala Adat
desa pesaku, Desa pesaku merupakan salah satu desa tertua yang termaksud 7 Desa Nata “Pitu nggota” yang ada sejak
zaman kerajaan, Berdasarkan asal usul
kepemimpinan di Sigi-Dolo terdapat dua kategori besar lembaga yang melahirkan pemimpin yakni dari Libu Nto
Ndeya dan pemimpin dari Libu Nu Maradika
7 Kategori pemimpin dalam Libu Nto Ndeya di Kerajaan Sigi berdasarkan
pembagian wilayah yang disebut
wilayah adat “pitu nggota.” Dalam wilayah ini ada Totua Nu Ngata (orang tua bagian kerajaan), Totua Nu Boya (orang tua
wilayah), dan Totua Nu Kinta (orang tua kampung).
Pemimpin-pemimpin adat ini yang bertugas dan berfungsi dalam pelaksanaan adat istiadat masyarakat di Kaili Kabupaten
Sigi (Natsir dan Haliadi, 2015)
7 Kategori kepemimpinan dalam
dewan pemerintahan kagaua atau di Kerajaan Sigi Dolo berdasarkan strukturnya.
Kerajaan Sigi Dolo dalam badan
kemagauan atau dalam lembaga eksekutif disebut sebagai “Libu Nu Maradika”, yang
susunannya sebagai berikut: Madika
Matua, sebagai Ketua Dewan dan merangkap Perdana Menteri dan Urusan Luar
Negeri, bertanggung jawab pada Magau
(raja); ,Bali Gau menyusun dan merubah segala sesuatu apabila bertentangan
dengan adat dan undangundang negara; Punggava, sebagai Menteri Pertahanan dan
Keamanan merangkap Menteri Dalam Negeri; Galara, sebagai Menteri Kehakiman; dan masih banyak badan – badan laian,
Badan-badan inilah yang bertanggung jawabmemutar roda pemerintahan Tanah Kaili. Baik ketua maupun anggota, diangkat dan
diberhentikan oleh Magau (raja) atas usul dan persetujuan Baligau (Ketua Pitunggota). (Natsir dan Haliadi, 2015).
Sedangkan untuk kepemimpinan awal
di desa pesaku disebut sebgai kepala kampong dan ketika itu yang duduk sebagai kepala kampung untuk pertama
kalinya di desa Pesaku adalah Djako Mamungka, berikut adalah nama
kepala kampung atau kepala desa di Pesaku.
Tabel Kepala kampung atau Kepala Desa Pesaku
1 Djako Mamungka Tahun Tidak
Diketahui
2 Ince Ujir Datupalinge Tahun tidak diketahui
3 Moh. Saleh Tahun tidak
diketahui
4 DM. Larangga 1995 s/d 1960
5 Moh Gazali 1960 s/d 1965
6 R Rapegawai 1965 s/d 1988
7 R Lahadjido 1988 s/d 1991
8 D Mambani Datupamusu 1991 s/d
1994
9 T Mursa 1994 s/d 2002
10 Moh Din Alwi 2002 s/d 2007
11 Arwin Dj Lapanusu 2007 s/d
2009
12 Nurfin 2009 s/d 2012
13 Nurfin 2012 s/d 2018
14 Minhar 2018 sd sekarang
Sumber
RKP Desa 2019
Sumber : DISINI
Ibnu Batutah atau Muhammad bin
Batutah (bahasa Arab: محمد ابن بطوطة) yang bernama lengkap Abu Abdullah
Muhammad bin Abdullah Al-Lawati At-Tanji bin Batutah (bahasa Arab: أبو عبد الله
محمد بن عبد الله اللواتي الطنجي بن بطوطة) adalah seorang alim (cendekiawan)
Maroko yang pernah berkelana ke berbagai pelosok dunia pada Abad
Pertengahan.[1][2] Dalam jangka waktu tiga puluh tahun, Ibnu Batutah
menjelajahi sebagian besar Dunia Islam dan banyak negeri non-Muslim, termasuk
Afrika Utara, Tanduk Afrika, Afrika Barat, Timur Tengah, Asia Tengah, Asia
Tenggara, Asia Selatan, dan Tiongkok. Menjelang akhir hayatnya, ia meriwayatkan
kembali pengalaman-pengalamannya menjelajahi dunia untuk dibukukan dengan judul
Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib
(bahasa Arab: تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار, Tuḥfatun Nuẓẓār fī
Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār),[3] yang lazim disebut Lawatan (bahasa
Arab: الرحلة, Ar-Rihlah).[4] Riwayat perjalanan Ibnu Batutah menyajikan
gambaran tentang peradaban Abad Pertengahan yang sampai sekarang masih
dijadikan sumber rujukan.
Riwayat hidup
Masa muda
Kafilah Haji, ilustrasi karya
Al-Wasiti dalam sebuah buku yang terbit pada abad ke-13 di Bagdad
Segala hal-ihwal terkait jati
diri dan kehidupan pribadi Ibnu Batutah yang diketahui orang sekarang ini
bersumber dari riwayat hidupnya yang termaktub dalam Ar-Rihlah. Menurut sumber
ini, Ibnu Batutah adalah seorang keturunan Berber,[1] terlahir sebagai putra
keluarga Ulama Fikih di Tanjah (Tangier), Maroko, pada 24 Februari 1304 (703
Hijriah), manakala Maroko diperintah oleh sultan-sultan dari Bani Marin.[5] Ia
mengaku masih terhitung sebagai keturunan dari salah satu suku Berber, yakni
suku Lawata.[6] Pada masa mudanya, Ibnu Batutah mendalami ilmu fikih di sebuah
madrasah Suni bermazhab Maliki, yakni bentuk pendidikan yang paling banyak
terdapat di Afrika Utara kala itu.[7] Umat Muslim dari mazhab Maliki meminta
Ibnu Batutah menjadi kadi (hakim syariat) mereka, karena ia berasal dari negeri
yang mengamalkan Mazhab Maliki.[8]
Ikhtisar perjalanan 1325–1332
Pertama kali berhaji
Pada bulan Juni 1325, saat
berusia dua puluh satu tahun, Ibnu Batutah berangkat meninggalkan kampung
halamannya untuk menunaikan ibadah haji, yakni perjalanan ziarah ke Mekah, yang
kala itu lazim memakan waktu enam belas bulan. Ia tidak pernah lagi melihat
Maroko selama dua puluh empat tahun semenjak keberangkatannya ke Mekah.[9]
Aku berangkat seorang diri, tanpa
kawan seperjalanan sebagai pelipur lara, tanpa iring-iringan kafilah yang dapat
kuikuti, namun didorong oleh hasrat yang menggebu-gebu di dalam diriku, dan
impian yang sudah lama terpendam di dalam sanubariku untuk berziarah ke
tempat-tempat suci yang mulia ini. Jadi, kubulatkan tekadku untuk meninggalkan
orang-orang terkasih, perempuan maupun laki-laki, dan menelantarkan rumahku
laksana burung-burung menelantarkan sarang-sarangnya. Alangkah berat rasanya
berpisah dari kedua orang tuaku, yang masih hidup kala itu, dan baik beliau
berdua maupun diriku sendiri sungguh-sungguh berduka karena harus berpisah.[10]
Ibnu Batutah berangkat ke Mekah
melalui jalur darat, menyusuri kawasan pesisir Afrika Utara, melintasi wilayah
kesultanan Bani Abdul Wad dan wilayah kesultanan Bani Hafsi. Ia melewati Kota
Tlemsan, Kota Bijayah, dan kemudian singgah selama dua bulan di Kota Tunis.[11]
Demi keamanan, Ibnu Batutah sering kali berangkat bersama rombongan kafilah
agar terhindar dari aksi perampokan. Ia bahkan sempat pula menikah di Kota
Sifaks.[12] Pernikahannya di Sifaks adalah pernikahan pertama dari serentetan
pernikahan yang kelak dilakukannya selama berkelana menjelajahi pelosok-pelosok
dunia.[13]
Ubin buatan Utsmaniyah dari abad
ke-17 bergambar Kabah di Mekah
Pada awal musim semi 1326, setelah
menempuh perjalanan sejauh 3.500 km (2.200 mil), Ibnu Batutah akhirnya sampai
ke Bandar Aleksandria, yang kala itu termasuk dalam wilayah Kesultanan Mamluk
Bahariyah. Di bandar itu pula ia berjumpa dengan dua orang aulia ahli zuhud.
Salah seorang di antaranya bernama Syekh Burhanudin yang konon meramalkan bahwa
Ibnu Batutah kelak akan menjelajahi dunia. Kepada Ibnu Batutah, ahli zuhud itu
berkata, "tampaknya engkau gemar berkelana ke negeri asing. Kelak engkau
bertemu dengan saudaraku Faridudin di India, Rukanudin di Sindi, dan Burhanudin
di Tiongkok. Sampaikanlah salamku kepada mereka." Ahli zuhud lainnya yang
bernama Syekh Mursyidi menafsirkan salah satu mimpi Ibnu Batutah sebagai
pertanda bahwa ia telah ditakdirkan menjadi seorang penjelajah dunia.[14][15]
Ibnu Batutah singgah selama beberapa pekan di Aleksandria demi mengunjungi
situs-situs bersejarah di daerah itu, dan kemudian melanjutkan perjalanannya
menuju Kairo, ibu kota Kesultanan Mamluk sekaligus sebuah kota yang terkemuka.
Setelah singgah sekitar sebulan lamanya di Kairo,[16] ia melakukan penjelajahan
kali pertama dari sekian banyak perjalanan jelajahnya di wilayah Kesultanan
Mamluk yang relatif aman. Dari tiga jalur perjalanan yang biasa ditempuh orang
menuju Mekah, Ibnu Batutah memilih jalur yang paling jarang dilalui, yakni
jalur yang menyusuri lembah Sungai Nil ke arah hulu, kemudian berbelok ke arah
timur menuju Bandar Aidab di pesisir Laut Merah.[a] Namun begitu tiba di bandar
itu, pecah huru-hara yang membuatnya terpaksa berbalik arah.[18]
Ibnu Batutah kembali ke Kairo dan
memilih jalur lain, kali ini melewati Kota Damaskus yang berada di bawah
kekuasaan Kesultanan Mamluk. Dalam perjalanannya yang pertama, ia pernah
berjumpa dengan seorang wali yang meramalkan bahwa ia hanya dapat sampai ke
Mekah melalui Syam.[19] Jalur kedua ini justru ia anggap menguntungkan, karena
melewati banyak tempat suci, termasuk Hebron, Yerusalem, dan Betlehem. Selain
itu, para pejabat Kesultanan Mamluk juga mengerahkan segala daya dan upaya
untuk menjaga keamanan jalur ini bagi para peziarah. Tanpa jerih payah mereka,
para musafir yang melewati jalur ini pastilah menjadi bulan-bulanan perampok
dan pembunuh.[20][b]
Setelah melewatkan bulan Ramadan
di Damaskus, ia berangkat bersama serombongan kafilah, menempuh perjalanan
sejauh 1.300 km (810 mil) ke arah selatan menuju Madinah, situs Mesjid Nabi
Muhammad. Setelah singgah selama empat hari di Madinah, Ibnu Batutah berangkat
menuju Mekah guna menamatkan perjalanan ziarahnya sehingga layak menyandang
gelar Al-Haji. Alih-alih pulang ke Maroko selepas berhaji, Ibnu Batutah malah
ingin terus berkelana, dan memutuskan untuk bertolak ke arah timur laut menuju
Ilkhanan (Negeri Ilkhan Hulagu), salah satu dari sekian banyak negeri yang
diperintah oleh Khan Mongol.[25]
Irak dan Persia
Ibnu Batutah menyempatkan diri
untuk berkunjung ke kota Tabriz pada 1327.
Pada 17 November 1326, setelah
sebulan lamanya berdiam di Mekah, Ibnu Batutah bergabung dengan serombongan
besar kafilah haji yang akan kembali ke Irak melalui jalur lintas Jazirah
Arab.[26] Kafilah ini bertolak ke arah utara menuju Madinah, kemudian
meneruskan perjalanan pada malam hari ke arah timur laut, melintasi padang Najd
menuju Najaf selama kurang lebih dua pekan. Sesampainya di Najaf, ia berziarah
ke Gedung Makam Ali, khalifah keempat.[27]
Selepas berziarah, Ibnu Batutah
tidak melanjutkan perjalanan bersama kafilah haji menuju Bagdad, dan malah
berkelana selama enam bulan menjelajahi negeri Persia. Dari Najaf, ia bertolak
menuju Wasit, kemudian menyusuri aliran Sungai Tigris ke arah selatan menuju
Basra. Kota berikutnya yang ia kunjungi adalah Isfahan, yang terletak di balik
Pegunungan Zagros di Persia. Selanjutnya ia bertolak ke arah selatan menuju
Syiraz, sebuah kota besar lagi makmur yang beruntung luput dari aksi
penghancuran bala tentara Mongol, tidak seperti banyak kota lain yang terletak
lebih ke utara. Ibnu Batutah akhirnya kembali melintasi pegunungan menuju
Bagdad, dan tiba di kota itu pada bulan Juni 1327.[28] Berbagai kawasan di Kota
Bagdad masih dipenuhi puing-puing reruntuhan, sisa-sisa aksi bumi hangus yang
dilakukan oleh bala tentara Hulagu Khan ketika menyerang kota itu pada
1258.[29]
Ketika berada di Bagdad, Ibnu
Batutah mendapati bahwa Abu Said, pemimpin Mongol terakhir atas segenap wilayah
Ilkhanan sebelum negeri itu terpecah-belah, akan berangkat ke arah utara
meninggalkan Bagdad diiringi serombongan besar anak buahnya.[30] Ibnu Batutah
mula-mula berangkat bersama-sama dengan rombongan Abu Said, namun kemudian
memisahkan diri dan menyusuri Jalur Sutra menuju Tabriz, kota besar pertama di
wilayah itu yang membuka gerbangnya bagi orang Mongol. Kota Tabriz kala itu
merupakan sebuah pusat niaga penting, karena kota-kota pesaing di sekitarnya
telah hancur diserang bala tentara Mongol.[31]
Ibnu Batutah kembali bertolak
menuju Bagdad, kemungkinan besar pada bulan Juli, namun terlebih dahulu
berpesiar ke arah utara, menyusuri aliran Sungai Tigris. Ia berkunjung ke Mosul
dan dijamu oleh gubernur, pejabat pemerintah Ilkhanan di kota itu,[32] kemudian
berkunjung pula ke Kota Cizre (Jazirat Ibnu Umar) dan Kota Mardin yang kini
berada dalam wilayah negara Turki. Ketika sampai ke sebuah pertapaan di gunung
dekat Sinjar, ia bertemu dengan seorang ahli tasawuf Kurdi yang menghadiahinya
beberapa keping uang perak.[c][35] Sekembalinya ke Mosul, ia bergabung dengan
serombongan jemaah haji dan berangkat ke Bagdad. Rombongan ini bergabung dengan
kafilah haji di Bagdad dan berangkat melintasi Gurun Arab menuju Mekah. Akibat
terserang diare dalam perjalanan, Ibnu Batutah tiba di Mekah untuk menunaikan
ibadah haji kali kedua dengan tubuh lemah dan letih lesu.[36]
Jazirah Arab
Kota Tua Sana, Yaman
Riwayat dalam Ar-Rihlah Ibnu
Batutah menyiratkan bahwa ia berdiam di Mekah selama tiga tahun, sejak bulan
September 1327 sampai musim gugur 1330. Meskipun demikian, kesimpangsiuran
penyebutan tarikh dalam Ar-Rihlah membuat para pengkaji menduga bahwa Ibnu
Batutah sesungguhnya telah meninggalkan Mekah selepas berhaji pada 1328.[d]
Selepas berhaji pada 1328 atau
1330, ia berangkat ke Bandar Jeddah yang terletak di pesisir Laut Merah. Dari
Jeddah, ia berlayar bergonta-ganti perahu menyusuri pantai, menentang hembusan
angin tenggara yang memperlambat laju pelayaran. Setibanya di Negeri Yaman, ia
berkunjung ke Kota Zabid dan ke Kota Taiz yang terletak di daerah pegunungan,
tempat ia berjumpa dengan Malik (raja) Mujahid Nurudin Ali dari Bani Rasul.
Ibnu Batutah juga meriwayatkan kunjungannya ke Kota Sana, namun kebenarannya
diragukan.[37] Agaknya ia langsung berangkat dari Taiz menuju Aden, dan tiba di
bandar penting itu sekitar awal 1329 atau 1331.[38]
Somalia
Bandar dan pelabuhan Zeila
Dari Aden, Ibnu Batutah berlayar
dengan kapal menuju Bandar Zeila yang terletak di pesisir Somalia. Dari Zeila,
ia melanjutkan perjalanannya menyusuri kawasan pesisir Somalia sampai ke
Tanjung Guardafui, dan tinggal kira-kira sepekan lamanya di tiap-tiap kota yang
ia singgahi. Ibnu Batutah selanjutnya berkunjung ke Mogadisyu, kota yang paling
terkemuka kala itu di "Negeri Orang Berber" (bahasa Arab: بلد البربر,
Biladil Barbar, sebutan orang Arab bagi kawasan Tanduk Afrika pada Abad
Pertengahan).[39][40][41]
Tatkala Ibnu Batutah tiba di Mogadisyu
pada 1331, kota itu sedang berada pada puncak kemakmurannya. Ibnu Batutah
menggambarkan Mogadisyu sebagai "sebuah bandar yang luar biasa
besarnya", ramai saudagar kaya, dan masyhur karena menghasilkan kain
bermutu tinggi yang diekspor ke negeri-negeri lain, bahkan sampai ke Mesir.[42]
Ia menambahkan pula bahwa kota itu diperintah oleh seorang Sultan Somali
bernama Abu Bakar bin Syekh Umar,[43][44] yang berasal dari daerah Berbera di
kawasan utara Somalia. Sultan Somali ini fasih berbahasa Arab, sefasih
berbahasa Somali (Ibnu Batutah menyebutnya sebagai "bahasa
Mogadisyu", yakni bahasa Somali dialek Benadir).[44][45] Sang Sultan
didampingi oleh barisan wazir (menteri), ahli hukum, senapati, sida-sida, dan
bermacam-macam pengiring lain yang siap sedia melayaninya.[44]
Pesisir Swahili
Mesjid Agung Kilwa Kisiwani,
mesjid terbesar yang dibangun menggunakan batu karang
Ibnu Batutah melanjutkan
perjalanannya dengan menumpangi kapal yang berlayar ke arah selatan menuju
kawasan Pesisir Swahili yang disebut "Negeri Orang Jenggi" (bahasa
Arab: بلد الزنج, Biladil Zanj) oleh orang-orang Arab,[46] dan sempat bermalam
di Mombasa, sebuah bandar pulau.[47] Meskipun relatif kecil kala itu, Mombasa
kelak berkembang menjadi sebuah bandar terkemuka pada abad berikutnya.[48]
Setelah melakukan perjalanan menyusuri pantai, Ibnu Batutah akhirnya sampai di
bandar pulau lainnya, yakni Kilwa, yang kini berada di dalam wilayah negara
Tanzania.[49] Bandar Kilwa kala itu merupakan sebuah pusat persinggahan penting
dalam jaringan perniagaan emas.[50] Ia menggambarkan bandar itu sebagai
"salah satu dari kota-kota paling permai, yang dibangun dengan sedemikian
eloknya; semua bangunan terbuat dari kayu, dan atap rumah-rumahnya terbuat dari
gelagah dīs."[51]
Riwayat kunjungan Ibnu Batutah ke
Kesultanan Kilwa baru dicatat pada 1330, dan berisi ulasan yang memuji-muji
kerendahan hati dan amal ibadah penguasanya yang bernama Sultan Al-Hasan bin
Sulaiman, keturunan dari penguasa legendaris yang bernama Ali bin Al-Hasan
Syirazi. Ia meriwayatkan lebih lanjut bahwa mandala kekuasaan Sang Sultan
membentang mulai dari Malindi di utara sampai ke Inhambane di selatan, dan
secara khusus mengagumi perancangan Kota Kilwa yang ia anggap sebagai
keunggulan yang membuat Kilwa menjadi bandar terkemuka di kawasan pesisir. Pada
masa inilah Istana Husuni Kubwa dibangun, dan Mesjid Agung Kilwa diperluas
secara besar-besaran. Mesjid yang berbahan bangunan batu karang ini adalah
mesjid terbesar di antara mesjid-mesjid sejenisnya. Manakala hembusan angin
muson berubah arah, Ibnu Batutah pun berlayar pulang ke Jazirah Arab; mula-mula
ke Oman, kemudian ke Selat Hormuz, dan akhirnya ke Mekah untuk berhaji pada
1330 (atau pada 1332).[52]
Ikhtisar perjalanan 1332–1347
Anatolia
Ibnu Batutah mungkin saja pernah
menghadap Andronikos III Palaiologos menjelang akhir tahun 1332
Selepas menunaikan ibadah haji
untuk ketiga kalinya, Ibnu Batutah memutuskan untuk mengadu nasib dengan
mengabdi pada Sultan Delhi, Muhammad bin Tughluq. Pada musim gugur 1330 (atau
1332), Ibnu Batutah bertolak menuju Anatolia yang kala itu dikuasai oleh orang
Turki-Seljuk, karena ia berniat untuk pergi ke India melalui jalur darat.[53]
Dari Jazirah Arab, ia berlayar menyeberangi Laut Merah, dilanjutkan dengan perjalanan
melintasi Gurun Timur sampai ke Lembah Sungai Nil, lalu berbelok ke arah utara
menuju Kairo. Dari Kairo, ia menempuh perjalanan melintasi Semenanjung Sinai
menuju Palestina, lalu berbelok ke arah utara melewati beberapa kota yang
pernah dikunjunginya pada 1326. Dari Bandar Latakia di Negeri Syam, Ibnu
Batutah (dan kawan-kawan) berlayar menumpangi sebuah kapal Genova menuju Bandar
Alanya yang terletak di pesisir selatan negara Turki sekarang ini.[54] Dari
Alanya, ia menempuh perjalanan menyusuri pantai ke arah barat sampai ke Bandar
Antalya.[55] Di Antalya, ia berjumpa dengan anggota-anggota salah satu
perhimpunan fityan yang bersifat semiagamawi.[56] Keberadaan
perhimpunan-perhimpunan semacam ini sudah menjadi salah satu ciri khas dari
sebagian besar kota-kota di Anatolia pada abad ke-13 dan ke-14. Para anggota
fityan adalah pengrajin-pengrajin muda yang dipimpin oleh seorang ketua
bergelar Akhis.[57] Fityan dibentuk dengan tujuan menjamu para musafir. Ibnu
Batutah sangat terkesan oleh keramahtamahan para anggota fityan, dan kelak
menginap di balai-balai penyantunan mereka yang tersebar di lebih dari 25 kota
di Anatolia.[58] Dari Antalya, Ibnu Batutah melanjutkan perjalanannya ke
kawasan pedalaman menuju Eğirdir, ibu kota Bani Hamidi. Ia melewatkan bulan
Ramadan (bulan Juni 1331 atau bulan Mei 1333) di kota itu.[59]
Mulai dari Eğirdir, riwayat
perjalanan Ibnu Batutah di daratan Anatolia yang termaktub dalam Ar-Rihlah
mulai simpang siur. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa ia melakukan perjalanan ke
arah barat dari Eğirdir menuju Milas, disambung dengan kunjungan ke Konya,
padahal perjalanan ke Konya berlawanan arah dengan perjalanan ke Milas sehingga
seakan-akan dalam sekejap mata ia telah melompati jarak sejauh 420 km (260 mil)
dari Eğirdir ke sebelah timur menuju Konya. Dari Konya, Ibnu Batutah berkelana
ke arah timur sampai ke Erzurum, disambung dengan kunjungan ke Birgi, padahal
Birgi terletak di sebelah utara Milas sehingga sekali lagi seakan-akan dalam
sekejap mata ia telah melakukan perjalanan balik ke arah barat sejauh 1.160 km
(720 mil) dari Erzurum menuju Birgi.[60] Para sejarawan yakin bahwa Ibnu
Batutah memang pernah berkunjung ke kota-kota di kawasan tengah Anatolia itu,
tetapi urut-urutannya bukan seperti yang ia riwayatkan.[61][e]
Asia Tengah
Unta Baktria (salah satu ciri
khas kafilah-kafilah Jalur Sutra) di depan Gedung Makam Khoja Ahmad Yasawi di
Kota Turkistan, Kazakhstan.
Dari Bandar Sinope, Ibnu Batutah
berlayar menuju Semenanjung Krimea, dan tiba di Negeri Orda Kencana. Ia
berkunjung ke Bandar Azov, tempat ia berjumpa dengan emir Sang Khan, lalu
berkunjung ke Kota Majar yang besar dan makmur kala itu. Dari Majar, Ibnu
Batutah berangkat menghadap majelis jelajah (orda) Öz Beg Khan, yang kala itu
sedang singgah di dekat Pegunungan Bestau. Dari majelis jelajah Khan, ia
melanjutkan perjalanan menuju Bolgar, tempat paling utara yang pernah ia
datangi. Di Bolgar, Ibnu Batutah mencermati suatu keganjilan waktu (bagi orang
yang berdiam di daerah subtropis), yakni malam hari yang berlangsung singkat
sepanjang musim panas. Ia kemudian kembali ke majelis jelajah Öz Beg Khan, dan
ikut serta dalam iring-iringan ketika rombongan majelis kerajaan itu berpindah
ke Astrakhan.
Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa
ketika berada di Bolgar, ia berniat meneruskan perjalanan ke arah utara menuju
negeri kegelapan. Seantero negeri itu (kawasan utara Siberia) tertutupi salju,
dan satu-satunya wahana yang dapat digunakan orang untuk bepergian di negeri
itu adalah eretan berpenghela anjing. Negeri itu didiami oleh orang-orang
misterius yang enggan memperlihatkan diri. Mereka berdagang dengan orang-orang
di sebelah selatan negerinya dengan cara yang unik. Saudagar-saudagar dari
selatan membawa berbagai macam barang ke suatu tempat terbuka pada malam hari,
dan menggeletakkannya begitu saja di atas salju, lalu kembali ke perkemahan
mereka. Pada pagi hari, saudagar-saudagar itu kembali ke tempat mereka menaruh
barang-barangnya semalam, dan mendapati bahwa dagangan mereka telah diambil
oleh orang-orang misterius, tetapi diganti dengan berlembar-lembar kulit bulu
binatang yang dapat diolah menjadi mantel, jaket, dan berbagai macam sandangan
musim dingin yang mahal harganya. Pertukaran barang dagangan ini dilakukan oleh
kedua belah pihak tanpa saling berjumpa. Karena bukan seorang saudagar, Ibnu
Batutah menganggap kunjungan ke tempat semacam itu tidak berfaedah, sehingga
mengurungkan niatnya untuk menjelajahi negeri kegelapan.[64]
Bendera Negeri Orda Kencana pada
masa pemerintahan Öz Beg Khan
Sesampainya rombongan majelis
jelajah di Astrakhan, Öz Beg Khan mengizinkan salah seorang istrinya yang
sedang mengandung, yakni Putri Bayalun, anak perempuan dari Kaisar Bizantin,
Andronikos III Palaiologos, untuk pulang ke kampung halamannya di
Konstantinopel sampai selesai bersalin. Dengan kecerdikannya bertutur kata,
Ibnu Batutah berhasil mendapatkan tempat dalam rombongan pengiring Putri
Bayalun. Kunjungan ke Konstantinopel adalah kunjungan pertama Ibnu Batutah ke
negeri yang terletak di luar tapal batas Dunia Islam.[65]
Setibanya di Konstantinopel,
menjelang akhir tahun 1332 (atau 1334), Ibnu Batutah menghadap Kaisar
Andronikos III Palaiologos. Ia berkunjung ke Gereja Agung Hagia Sofia, dan
berbincang-bincang dengan seorang imam Ortodoks Timur seputar kunjungannya ke
Kota Yerusalem. Setelah berdiam sebulan lamanya di Konstantinopel, Ibnu Batutah
kembali ke Astrakhan, kemudian meneruskan perjalanan ke Sarai Al-Jadid, ibu
kota kesultanan, guna mempersembahkan hal-ihwal kunjungan ke Konstantinopel
kepada Sultan Öz Beg Khan (memerintah 1313–1341). Ibnu Batutah kemudian
melanjutkan perjalanannya menyeberangi Laut Kaspia dan Laut Aral, menuju
Bukhara dan Samarkand. Setibanya di Samarkand, ia menghadap majelis istana raja
Mongol lainnya yang bernama Tarmasyirin (memerintah 1331–1334), penguasa Negeri
Khan Tsagatai.[66] Dari Samarkand, ia meneruskan perjalanan ke arah selatan
menuju Afganistan, lalu melewati jalur lintas Pegunungan Hindu Kus menuju
India.[67] Dalam Ar-Rihlah, Ibnu Batutah memberi gambaran mengenai pegunungan
ini, sekaligus menyinggung andilnya dalam sejarah perniagaan budak
belian.[68][69]
Sesudah itu, aku melanjutkan
perjalanan menuju Kota Barwan, melewati sebuah gunung tinggi bersalut salju
yang luar biasa dinginnya; orang menamakan gunung itu Hindu Kus, artinya
Penjagal Hindu, karena sebagian besar budak belian pengantar upeti dari India
tewas dicekam hawa dingin di gunung itu.
— Ibn Battuta, Bab XIII,
Ar-Rihlah – Khorasan[69][70]
Ibnu Batutah dan kawan-kawan tiba
di Sungai Indus pada 12 September 1333.[71] Dari Sungai Indus, ia melanjutkan
perjalanan menuju Delhi, dan akhirnya berjumpa dengan Sultan Muhammad bin
Tughluq.
Asia Selatan
Makam Sultan Firuz Syah Tughluq,
pengganti Muhammad bin Tughluq, di Delhi. Ibnu Batutah menduduki jabatan qadi
(kadi) selama enam tahun pada masa pemerintahan Sultan Muhammad bin Tughluq.
Muhammad bin Tughluq tersohor
sebagai orang terkaya di Dunia Islam kala itu. Ia mempekerjakan sejumlah besar
alim-ulama, ahli tasawuf, kadi, wazir, dan berbagai cerdik pandai lainnya demi
memperkukuh kekuasaannya. Sebagaimana Kesultanan Mamluk di Mesir, Bani Tughluq
adalah contoh langka dari sisa-sisa pemerintahan Muslim di Asia selepas invasi
Mongol. Karena pernah belajar bertahun-tahun lamanya di Mekah, Ibnu Batutah
diangkat menjadi kadi oleh Sang Sultan.[72] Meskipun demikian, ia merasa sukar
untuk menerapkan Syariat Islam di luar kalangan istana sultan di Delhi, karena
tidak adanya mahkamah syariat di India.[73]
Ibnu Batutah berkunjung ke
Petilasan Baba Farid di Pakpattan pada 1334.[74]
Jalur yang dilewati Ibnu Batutah
menuju Anak Benua India tidak diketahui secara pasti. Ia mungkin saja melewati
Perlintasan Khaibar dan Pesyawar, atau lebih jauh lagi di sebelah selatan.[75]
Ia menyeberangi Sungai Sutlej dekat Kota Pakpattan di wilayah Pakistan sekarang
ini.[76] Di Pakpattan, ia menyempatkan diri untuk berziarah ke Petilasan Baba
Farid,[74] sebelum meneruskan perjalanan ke arah barat daya menuju Negeri
Rajaputra (Rajput). Dari Kerajaan Sarsati di Rajaputra, Ibnu Batutah berkunjung
ke Kota Hansi di India, yang ia gambarkan sebagai "kota yang terelok
bangunnya dan yang teramai warganya di antara semua kota yang permai; kota ini
bertembok kukuh, dan konon didirikan oleh seorang maharaja kafir yang bernama
Tara".[77] Ibnu Batutah meriwayatkan pula bahwa tatkala berkunjung ke
Sindi, ia melihat kawanan badak India yang hidup di tepian Sungai Indus.[78]
Sang Sultan adalah orang yang
tidak tetap pendiriannya, bahkan untuk ukuran masa itu. Akibatnya, nasib Ibnu
Batutah terombang-ambing tak menentu selama enam tahun. Kadang-kadang ia
dianggap sebagai abdi tepercaya, namun tidak jarang pula dicurigai sebagai
seorang musuh dalam selimut. Niatnya untuk angkat kaki dari negeri itu dengan
alasan menunaikan ibadah haji pun digagalkan oleh sultan. Kesempatan untuk
meninggalkan Delhi akhirnya tiba pada 1341, manakala serombongan utusan wangsa
Yuan dari Tiongkok datang menghadap sultan untuk meminta izin membangun kembali
sebuah wihara di Himalaya yang ramai dikunjungi para peziarah Tionghoa.[f][82]
Ibnu Batutah diutus sebagai duta
besar Kesultanan Delhi ke Negeri Tiongkok, namun dalam perjalanan menuju daerah
pesisir untuk berlayar ke Tiongkok, rombongan besar perutusan Delhi yang
dipimpinnya diserang oleh segerombolan penjahat.[83] Ibnu Batutah terpisah dari
rombongan perutusan dan dirampok habis-habisan sampai nyaris kehilangan
nyawa.[84] Sepuluh hari kemudian, ia bertemu kembali dengan rombongan
perutusan, dan melanjutkan perjalanan menuju Bandar Khambat yang kini berada
dalam wilayah Negara Bagian Gujarat di India. Dari Khambat, rombongan perutusan
berlayar menuju Bandar Kalikut (sekarang Kozikod), bandar yang kelak disinggahi
penjelajah Portugis, Vasco da Gama, dua abad kemudian. Di Kalikut, Ibnu Batutah
dijamu sebagai tamu Zamorin (Raja Kalikut).[72] Ketika berkunjung ke sebuah
mesjid di tepi pantai, tiba-tiba turun badai besar yang menenggelamkan salah
satu dari kapal-kapal rombongan perutusan.[85] Kapal perutusan lainnya, yang
melanjutkan pelayaran tanpa Ibnu Batutah, dirampas oleh seorang raja pribumi Sumatra
beberapa bulan kemudian.
Karena takut dinilai gagal
menunaikan tugas, Ibnu Batutah tidak kembali ke Delhi, tetapi tinggal selama
beberapa waktu di kawasan selatan India di bawah perlindungan Sultan Jamaludin,
penguasa Kesultanan Nawayat yang kecil namun kuat di tepi Sungai Syarawati yang
bermuara ke Laut Arab. Daerah ini sekarang bernama Hosapattana, di Bandar
Honnavar, distrik administratif Uttara Kannada. Ketika Kesultanan Nawayat
tumbang, Ibnu Batutah tidak punya pilihan lain kecuali angkat kaki dari India.
Meskipun sangat ingin berkelana ke Negeri Tiongkok, Ibnu Batutah justru
berlayar ke Kepulauan Maladewa dan bekerja sebagai kadi.[86]
Pemandangan sebuah pulau di
Maladewa
Ia tinggal selama sembilan bulan
di kepulauan itu, jauh lebih lama dari niatnya semula. Sebagai seorang kadi
besar yang berpengalaman, ilmunya sangat dibutuhkan di Maladewa, sebuah negeri
yang baru saja beralih keyakinan dari agama Buddha ke agama Islam. Setelah
didesak untuk menetap, ia diangkat menjadi hakim agung dan dinikahkan dengan
kerabat perempuan dari Sultan Umar I. Ia melibatkan diri dalam percaturan
politik di negeri itu, dan akhirnya memutuskan untuk angkat kaki manakala
ketegasannya menentang perilaku hidup bebas di kerajaan kepulauan itu mulai
menjengkelkan para penguasa. Dalam Ar-Rihlah ia meriwayatkan keprihatinannya
melihat perempuan-perempuan pribumi berseliweran dengan telanjang dada,
sementara kecamannya terhadap kebiasaan ini malah tidak dihiraukan oleh
masyarakat setempat.[87] Dari Maladewa, ia berlayar ke Sri Lanka, dan
menyempatkan diri untuk mendaki ke puncak Gunung Sri Pada serta berkunjung ke
Kuil Tenawaram.
Kapal yang ia tumpangi nyaris
karam tatkala bertolak meninggalkan Sri Lanka, dan perahu yang menyelamatkannya
malah diserang lanun. Setelah dilepas ke pantai, ia berusaha mencari jalan
menuju Madurai di India. Ia sempat tinggal selama beberapa waktu di lingkungan
istana Kesultanan Madurai yang berumur pendek itu, di bawah perlindungan Sultan
Giyasudin Muhammad Damgani.[88] Dari Madurai, ia kembali ke Maladewa, lalu
menumpang sebuah jung Tiongkok, dengan niat untuk berlayar ke Negeri Tiongkok
dan menunaikan tugasnya sebagai Duta Besar Kesultanan Delhi.
Ia turun di Bandar Citagong, yang
kini berada dalam wilayah negara Banglades, dengan maksud berkunjung ke
Srihatta untuk menjumpai Syah Jalal, seorang ahli tasawuf yang sudah sedemikian
sohornya sampai-sampai Ibnu Batutah rela sebulan penuh menempuh perjalanan
melintasi daerah Pegunungan Kamarupa di dekat Srihatta demi berjumpa dengannya.
Dalam perjalanannya menuju Srihatta, Ibnu Batutah bertemu dengan beberapa murid
Syah Jalal yang membantunya menempuh perjalanan berhari-hari lamanya. Ibnu
Batutah meriwayatkan bahwa Syah Jalal, yang ia jumpai pada 1345 M itu,
berperawakan tinggi dan ramping, terang warna kulitnya, dan menghuni sebuah gua
yang bersebelahan dengan mesjid. Satu-satunya harta bernilai yang dimiliki Syah
Jalal adalah seekor kambing yang ia pelihara sebagai penghasil susu, mentega,
dan dadih. Ibnu Batutah meriwayatkan pula bahwa para pengiring Syah Jalal
adalah orang-orang asing yang terkenal kuat lagi pemberani, dan banyak orang
yang datang memohon nasihat dari ahli tasawuf itu. Ibnu batutah kemudian
melakukan perjalanan lebih jauh lagi ke arah utara menuju Assam, lalu pulang ke
pesisir untuk melanjutkan pelayaran menuju Negeri Tiongkok.
Asia Tenggara
Pada 1345, Ibnu Batutah
melanjutkan pelayarannya dan menyinggahi Kesultanan Samudra Pasai (disebut
"al-Jawa") di kawasan utara Pulau Sumatra yang kini termasuk dalam
wilayah Provinsi Aceh, setelah 40 hari perjalanan dari Sunarkawan.[89][90] Ia
meriwayatkan bahwa penguasa Samudra Pasai adalah seorang Muslim saleh yang
bernama Sultan Al-Malikul Zahir Jamaludin. Sultan ini rajin beribadah dengan
tingkat ketekunan yang tinggi, dan kerap memerangi kaum penyembah berhala di
kawasan itu. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa Pulau Sumatra kaya akan kapur
barus, biji pinang, cengkih, dan timah. Mazhab yang dianut di negeri itu adalah
mazhab Imam Syafi‘i, dan amalan-amalan umat Muslim Samudra Pasai mirip dengan amalan-amalan
yang pernah ia lihat di kawasan pesisir India, khususnya di kalangan umat
Muslim Mappila, yang juga menganut mazhab Imam Syafi‘i. Pada masa itu, Samudra
Pasai adalah pelosok terjauh Darul Islam (wilayah berpemerintahan Islam),
karena tidak ada lagi wilayah lain di sebelah timur Samudra Pasai yang
diperintah penguasa Muslim. Di Samudra Pasai, Ibnu Batutah tinggal sekitar dua
pekan lamanya di dalam kota berpagar kayu sebagai tamu sultan. Sang Sultan
mencukupi perbekalan yang diperlukan untuk berlayar, dan memberangkatkan Ibnu
Batutah ke Negeri Tiongkok dengan salah satu jung pribadinya.[91]
Ibnu Batutah pertama kali
berlayar selama 21 hari ke sebuah tempat yang disebut "Mul Jawa"
(pulau Jawa) yang merupakan pusat sebuah kekaisaran Hindu. Kekaisaran
membentang sebesar 2 bulan perjalanan, dan memerintah negara Qaqula dan Qamara.
Dia tiba di kota bertembok bernama Qaqula/Kakula, dan mengamati bahwa kota itu
memiliki kapal perang untuk bajak laut yang merampok dan mengumpulkan tol dan
gajah dipekerjakan untuk berbagai tujuan. Dia bertemu dengan penguasa Mul Jawa
dan tinggal sebagai tamu selama tiga hari.[92][93][94]
Dari Malaka, Ibnu Batutah
berlayar ke sebuah kerajaan bernama Kailukari di Negeri Tawalisi, tempat ia
berjumpa dengan Urduja, seorang putri pribumi. Urduja adalah seorang srikandi
pemberani, dan rakyatnya memusuhi wangsa Yuan. Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa
Urduja adalah seorang "penyembah berhala", namun pandai menuliskan
Kalimat Basmalah sesuai kaidah seni menyurat Islam. Lokasi Kailukari maupun
Tawalisi masih menjadi pokok perdebatan. Kailukari mungkin saja adalah Po Klong
Garai di Campa (sekarang kawasan selatan Vietnam), dan Urduja boleh jadi adalah
salah seorang bangsawati Campa dari wangsa Trần. Masyarakat Filipina meyakini
bahwa Kailukari adalah daerah yang kini menjadi Provinsi Pangasinan di negara
Filipina.[95] Kemenangan atas Mongol menunjukkan 2 kemungkinan lokasinya:
Jepang dan Jawa (Majapahit).[96] Pada zaman modern, sosok Urduja ditampilkan
dalam buku-buku bacaan dan film-film Filipina sebagai salah seorang pahlawan
nasional perempuan negara itu. Banyak tempat lain yang juga diperkirakan
sebagai lokasi kerajaan ini, mulai dari Pulau Jawa sampai ke Provinsi Guangdong
di Tiongkok. Meskipun demikian, Sir Henry Yule dan William Henry Scott
beranggapan bahwa seluruh riwayat tentang Negeri Tawalisi maupun Putri Urduja
hanya khayalan belaka (untuk keterangan lebih lanjut, baca Tawalisi).
Dari Kailukari, Ibnu Batutah
bertolak menuju Bandar Quanzhou di Provinsi Fujian, Negeri Tiongkok.
Negeri Tiongkok
Dalam ranah ilmu geografi Islam,
Ibnu Batutah adalah orang pertama yang menyajikan keterangan mengenai Tembok
Besar Tiongkok, meskipun ia tidak pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri.
Pada tahun 1345, Ibnu Batutah
tiba di Bandar Quanzhou, di Provinsi Fujian, Negeri Tiongkok, yang kala itu
diperintah oleh bangsa Mongol. Salah satu hal pertama yang menarik perhatiannya
adalah sebutan umat Muslim bagi bandar itu, yakni "Zaitun", walau tak
sebatang pun pohon zaitun yang dapat ia temukan di Negeri Tiongkok. Ibnu
Batutah mengagumi kepiawaian para seniman pribumi dalam melukis wajah
orang-orang asing yang baru saja tiba; hal ini dilakukan demi kepentingan
keamanan. Ibnu Batutah memuji-muji para pengrajin serta sutra dan tembikar yang
mereka hasilkan; ia juga memuji buah-buahan khas Tiongkok seperti persik dan
semangka, mengagumi manfaat-manfaat uang kertas,[97] dan menggambarkan proses
pengerjaan kapal-kapal besar di Bandar Quanzhou.[98] Ia juga mencermati budaya
boga orang Tionghoa, dan pemanfaatan berbagai jenis daging satwa sebagai bahan
pangan, seperti katak, babi, bahkan anjing, yang dijual orang di pasar-pasar.
Ia memperhatikan ukuran ayam-ayam Tiongkok yang menurutnya lebih besar daripada
ayam yang biasa ia lihat. Sekalipun demikian, para pengkaji mendapati banyak
kekeliruan dalam keterangan Ibnu Batutah mengenai Tiongkok, misalnya saja
Sungai Kuning dikacaubalaukan dengan Terusan Besar serta terusan-terusan lain
di Tiongkok, dan menyangka bahwa tembikar terbuat dari batu bara.[99]
Di Quanzhou, Ibnu Batutah
disambut oleh pemimpin saudagar Muslim (mungkin seorang 番長, fānzhǎng, pemimpin
orang asing)dan Syaikhul Islam (imam) bandar itu, yang menyongsong
kedatangannya dengan kibaran panji-panji, tabuhan genderang, tiupan sangkakala,
dan barisan pemain musik.[100] Ibnu Batutah mencermati bahwa umat Muslim di
bandar itu tinggal di kawasan permukiman tersendiri, tempat mereka membangun
mesjid-mesjid, pasar-pasar, dan rumah-rumah sakit sendiri. Di Quanzhou, ia
berjumpa dengan dua tokoh terkemuka asal Persia, yakni Burhanudin dari Kazerun
dan Syarifudin dari Tabriz,[101] kedua orang ini adalah tokoh-tokoh berpengaruh
yang tercatat dalam Sejarah Yuan dengan nama "A-mi-li-ding" dan
"Sai-fu-ding".[102] Semasa tinggal di Quanzhou, ia menyempatkan diri
untuk mendaki "Gunung Pertapa" dan berjumpa dengan seorang rahib Tao
terkenal di dalam sebuah gua.
Ibnu Batutah kemudian melanjutkan
perjalanan ke arah selatan, menyusuri kawasan pesisir Tiongkok, menuju Bandar
Guangzhou, dan menginap selama dua pekan di rumah salah seorang saudagar kaya
di bandar itu.[103]
Dari Guangzhou, ia kembali ke
Quanzhou, kemudian meneruskan perjalanan ke Bandar Fuzhou, dan menginap di
rumah Zahirudin. Di Fuzhou, Ibnu Batutah berjumpa dengan Kawamudin, dan salah
seorang rekan senegaranya, yakni Al-Busyri dari Sebtah, yang sudah menjadi
saudagar kaya di Tiongkok. Al-Busyri menemani Ibnu Batutah dalam perjalanannya
ke arah utara menuju Hangzhou, serta membelikannya hadiah-hadiah yang akan
dipersembahkan kepada Kaisar Togontemür dari wangsa Yuan.[104]
Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa
Hangzhou adalah salah satu dari kota-kota terbesar yang pernah ia lihat,[105]
dan mencermati daya pikat kota itu, yang ia gambarkan terletak di tepi sebuah danau
yang indah, dikelilingi bukit-bukit hijau yang asri.[106] Ia juga
menyebut-nyebut kawasan permukiman umat Muslim di kota itu, dan tinggal sebagai
tamu di rumah sebuah keluarga asal Mesir.[104] Ketika tinggal di Hangzhou, ia
sangat terpukau melihat begitu banyak kapal kayu buatan Tiongkok yang berlabuh
di terusan-terusan. Ia meriwayatkan bahwa kapal-kapal itu sangat bagus
buatannya, dan dicat dengan sedemikian eloknya, diperlengkapi dengan dengan
layar-layar beraneka warna, dan tudung penghalang terik matahari yang terbuat
dari sutra. Ia menghadiri perjamuan yang digelar oleh wali kota Hangzhou
berkebangsaan Mongol, seorang pejabat pemerintah kekaisaran wangsa Yuan, yang
bernama Qurtai. Menurut Ibnu Batutah, Qurtai gemar menyaksikan kemahiran para
tukang tenung Tionghoa.[107] Ibnu Batutah juga berkisah tentang masyarakat
pribumi yang menyembah dewa matahari.[108]
Ibnu Batutah meriwayatkan
pengalamannya berperahu menyusuri Terusan Besar, sambil menikmati pemandangan
lahan-lahan pertanian, bunga-bunga anggrek, saudagar-saudagar berpakaian sutra
hitam, perempuan-perempuan berbusana cindai, dan pendeta-pendeta yang juga
mengenakan pakaian dari sutra.[109] Di Beijing, Ibnu Batutah mengaku sebagai
duta besar Kesultanan Delhi yang sudah lama tak terdengar kabar beritanya, dan
diundang ke istana untuk menghadap Kaisar Togontemür (yang menurut riwayat Ibnu
Batutah, disembah oleh sebagian rakyat Tiongkok). Ibnu Batutah meriwayatkan
bahwa istana Khanbaliq terbuat dari kayu, dan "garwa padmi" sang
Kaisar (Permaisuri Gi) menggelar arak-arakan untuk menunjukkan
kebesarannya.[110][111]
Ibnu Batutah juga meriwayatkan
kabar yang ia dengar tentang "tembok besar Yajuj dan Majuj" yang
berjarak "enam puluh hari perjalanan" dari Bandar Zaitun
(Quanzhou).[112] Menurut Hamilton Alexander Rosskeen Gibb, Ibnu Batutah yakin
bahwa Tembok Besar Tiongkok dibangun oleh Zulkarnain untuk mengurung Gog dan
Magog sebagaimana termaktub dalam Al-Quran.[112] Meskipun demikian, ketika
bertanya-tanya tentang Tembok Besar Tiongkok, Ibnu Batutah tidak dapat
menemukan seorang pun yang pernah melihat sendiri maupun yang kenal dengan
orang yang pernah melihat sendiri bangunan itu, sehingga menimbulkan dugaan
bahwa pada masa itu sudah tidak ada lagi sisa-sisa yang menonjol dari bangunan
awal tembok raksasa itu (Tembok Besar Tiongkok yang ada sekarang ini baru
dibangun pada zaman wangsa Ming).[113]
Dari Beijing, Ibnu batutah
kembali ke Hangzhou, kemudian melanjutkan perjalanan ke Fuzhou. Sekembalinya ke
Quanzhou, Ibnu Batutah segera naik ke jung milik Sultan Samudra Pasai untuk
berlayar balik ke Asia Tenggara. Malangnya, para awak jung secara
sewenang-wenang menagih bea penumpang yang sangat besar jumlahnya, sehingga
Ibnu batutah terpaksa harus merelakan sebagian besar harta kekayaan yang
berhasil ia kumpulkan selama berkelana di Negeri Tiongkok.[114]
Ibnu Batutah meriwayatkan bahwa
jenazah Khan Mongol (Qan) disemayamkan di dalam bangunan makamnya bersama enam
orang budak prajurit, dan empat orang budak perempuan.[115] Perak, emas,
senjata-senjata, dan permadani-permadani turut dimasukkan pula ke dalam
bangunan makam itu.[116]
Pulang
Sekembalinya ke Quanzhou pada
1346, Ibnu Batutah pun memulai perjalanan pulangnya ke Maroko.[117] Di Kalikut,
ia sempat menimbang-nimbang untuk kembali ke Delhi dan memasrahkan diri pada
belas kasihan Sultan Muhammad bin Tughluq, namun kemudian mengurungkan niatnya
itu, dan memutuskan untuk terus berlayar menuju Mekah. Dalam pelayaran
melintasi Selat Hormuz menuju Basra, ia mendengar kabar bahwa Abu Said,
penguasa terakhir dari wangsa Ilkhanan telah mangkat di Persia, dan wilayah
kekuasaannya sedang diamuk perang saudara antara Persia dan Mongol.[118]
Pada 1348, Ibnu Batutah tiba di
Damaskus, hendak menapaki kembali jalur yang pernah ia tempuh ketika berangkat
haji untuk pertama kalinya. Ia kemudian menerima kabar bahwa ayahnya telah
wafat 15 tahun yang lampau,[119] dan mulai dari tahun berikutnya kabar duka
menjadi tema utama dalam riwayat perjalanannya. Tatkala ia berada di Timur
Tengah, wabah Maut Hitam sedang berjangkit di seluruh wilayah Suriah,
Palestina, dan Jazirah Arab. Di Mekah, ia memutuskan untuk pulang ke Maroko,
setelah hampir seperempat abad lamanya berkelana meninggalkan kampung
halaman.[120] Dalam perjalanan pulang, Ibnu Batutah masih menyempatkan diri
untuk menjelajahi Sardinia, dan akhirnya pulang ke Tanjah lewat Fez pada 1349,
hanya untuk mendapati kenyataan bahwa ibunya juga telah wafat beberapa bulan
sebelumnya.[121]
Ikhtisar perjalanan 1349–1354
Spanyol dan Afrika Utara
Ibnu Batutah berkunjung ke Emirat
Granada, satu-satunya negeri yang tersisa dari wilayah kekuasaan orang
Arab-Andalusia di Al-Andalus.
Setelah sembilan hari berada di
Tanjah, Ibnu Batutah berangkat menuju Al-Andalus, wilayah kekuasaan Muslim di
Semenanjung Iberia. Alfonso XI, Raja Kastila dan León, telah memaklumkan perang
terhadap Gibraltar. Ancaman perang inilah yang mendorong Ibnu Batutah untuk
bergabung dengan serombongan umat Muslim Tanjah dan berangkat ke Al-Andalus
untuk mempertahankan Bandar Gibraltar pada 1350.[122] Ketika Ibnu Batutah tiba
di Al-Andalus, Raja Alfonso sudah mangkat akibat terjangkiti wabah Maut Hitam,
sehingga ancaman perang atas Gibraltar pun berakhir. Ibnu Batutah memanfaatkan
kesempatan itu untuk melancong melihat-lihat pemandangan Al-Andalus. Ia
melakukan perjalanan melintasi Negeri Valencia sampai ke Granada.[123]
Setelah bertolak meninggalkan
Al-Andalus, ia memutuskan untuk berkelana menjelajahi wilayah Maroko. Dalam
perjalanan pulang ke kampung halaman, ia singgah selama beberapa waktu di
Marakes yang kala itu sudah nyaris seperti kota hantu selepas dilanda wabah dan
akibat pemindahan pusat pemerintahan ke Fez.[124]
Ibnu Batutah akhirnya kembali ke
Tanjah, namun hanya tinggal untuk sementara waktu. Pada 1324, dua tahun sebelum
kunjungan pertama Ibnu Batutah ke Kairo, Mansa (raja diraja) Musa, penguasa
Kemaharajaan Mali di Afrika Barat telah melewati kota itu dalam perjalanannya
ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mansa Musa menimbulkan kegemparan besar
dengan pameran harta kekayaannya yang berlimpah ruah, bekal perjalanan haji
dari negeri asalnya yang kaya akan emas. Meskipun Ibnu Batutah tidak pernah
meriwayatkan kunjungan yang menggemparkan itu secara khusus, mungkin saja kisah
kunjungan Mansa Musa inilah yang telah menyemai minat di dalam hatinya untuk
berkelana melintasi Sahara menuju kerajaan-kerajaan Muslim di seberang gurun
raksasa itu.
Mali dan Timbuktu
Madrasah Sankore di Timbuktu,
Mali
Pada musim gugur 1351, Ibnu
Batutah berangkat dari Fez menuju Kota Sijilmasa di tepi utara Gurun Sahara,
yang kini berada dalam wilayah negara Maroko.[125] Di Sijilmasa, ia membeli
beberapa ekor unta dan tinggal selama empat bulan. Ia berangkat bersama
serombongan kafilah pada bulan Februari 1352, dan setelah melakukan perjalanan
selama 25 hari, ia tiba di padang garam Taghaza dan melihat sendiri
tambang-tambang garamnya. Semua bangunan di tempat itu dibuat dari
lempeng-lempeng garam oleh budak-budak suku Masufa, yang memotong bongkahan
garam menjadi lempeng-lempeng tebal untuk diangkut dengan unta. Meskipun kala
itu Taghaza adalah sebuah pusat niaga dan dibanjiri emas dari Mali, Ibnu
Batutah sama sekali tidak terkesan, dan malah meriwayatkan bahwa tempat itu
penuh lalat lagi payau airnya.[126]
Setelah tinggal selama sepuluh
hari di Taghaza, rombongan kafilah melanjutkan perjalanan menuju oasis di
Tasarahla (mungkin Bir Al-Ksaib),[127][g] tempat kafilah beristirahat selama
tiga hari sebelum melakukan perjalanan yang terakhir sekaligus tersulit
menyeberangi Gurun Sahara. Dari Tasarahla, seorang pandu Masufa diutus terlebih
dahulu ke Kota Oasis Oualata guna mempersiapkan bekal air yang akan diangkut
menempuh jarak sejauh empat hari perjalan menuju tempat pertemuan dengan
kafilah yang membutuhkannya sebagai pelepas dahaga. Oualata adalah pos paling
selatan di jalur niaga lintas-Sahara, dan belum lama menjadi bagian dari wilayah
Kemaharajaan Mali. Secara keseluruhan, rombongan kafilah itu menghabiskan waktu
selama dua bulan untuk melakukan perjalanan lintas gurun sejauh 1.600 km (990
mil) dari Sijilmasa.[128]
Kafilah garam Azalai dari Agadez
menuju Bilma
Dari tempat itu, Ibnu Batutah
melakukan perjalanan ke arah barat daya, menyusuri tepian sebuah sungai yang ia
sangka Sungai Nil (sebenarnya adalah Sungai Niger), sampai ke ibu kota
Kemaharajaan Mali.[h] Di ibu kota, ia berjumpa dengan Mansa Sulaiman, yang naik
takhta pada 1341. Ibnu Batutah tidak senang melihat biti-biti perwara,
dayang-dayang, bahkan putri-putri sultan, tidak menutup seluruh aurat mereka
selayaknya Muslimah yang baik.[130] Ia meninggalkan ibu kota pada bulan
Februari, ditemani seorang saudagar pribumi Mali, dan melakukan perjalanan
dengan mengendarai unta menuju Timbuktu.[131] Meskipun dua abad kemudian telah
berkembang menjadi kota terkemuka di kawasan itu, Timbuktu masih berupa sebuah
sebuah kota kecil dan tidak begitu penting sewaktu dikunjungi Ibnu Batutah.[132]
Dalam perjalanan ke Timbuktu inilah Ibnu Batutah untuk pertama kalinya melihat
kuda nil. Satwa ini ditakuti oleh tukang-tukang perahu pribumi, dan diburu
dengan menggunakan lembing yang pada pangkalnya terikat seutas tambang yang
kuat.[133] Setelah tinggal tak seberapa lama di Timbuktu, Ibnu Batutah
melakukan perjalan menyusui Sungai Niger menuju Gao dengan menaiki perahu kecil
yang terbuat dari sebatang pohon utuh. Kala itu Gao adalah sebuah pusat niaga
yang penting.[134]
Setelah sebulan lamanya tinggal
di Gao, Ibnu Batutah berangkat bersama serombongan besar kafilah menuju Oasis
Takedda. Dalam perjalanan melintasi padang gurun, turun titah dari Sultan
Maroko agar ia kembali ke kampung halamannya. Ibnu Batutah bertolak menuju
Sijilmasa pada bulan September 1353, bersama serombongan besar kafilah yang
membawa 600 orang budak perempuan, dan tiba di Maroko pada awal tahun
1354.[135]
Riwayat pengembaraan Ibnu
Battutah memberikan sekilas gambaran bagi para pengkaji mengenai zaman ketika
agama Islam baru mulai menyebar ke jantung kawasan Afrika Barat.[136]
Ar-Rihlah Ibnu Batutah
Lihat pula: Rihlah
Situs yang diduga sebagai makam
Ibnu Batutah, terletak di dalam sebuah rumah di Madinat Tanjah (Kota Tanjah)
Setelah pulang ke kampung halaman
pada 1354, atas anjuran Sultan Abu Inan Faris, penguasa Maroko dari Bani Marin,
Ibnu Batutah meriwayatkan petualangan-petualangannya kepada Ibnu Juzay, seorang
alim yang pernah ia jumpai di Granada. Riwayat yang disusun oleh Ibnu Juzay
inilah satu-satunya sumber informasi tentang petualangan-petualangan Ibnu
Batutah. Judul lengkap dari naskah yang disusun oleh Ibnu Juzay ini adalah
Hadiah Bagi Para Pemerhati Negeri-Negeri Asing dan Pengalaman-Pengalaman Ajaib
(bahasa Arab: تحفة النظار في غرائب الأمصار وعجائب الأسفار, Tuḥfatun Nuẓẓār fī
Gharāʾibil Amṣār wa ʿAjāʾibil Asfār),[3][i] namun sering kali hanya disebut
Lawatan (bahasa Arab: الرحلة, Ar-Rihlah).[4] Ar-Rihlah sebenarnya adalah
sebutan bagi salah satu ragam baku dari karya tulis dalam sastra Arab.
Tidak ada indikasi bahwa Ibnu
Batutah mencatat sendiri pengalaman-pengalaman selama dua puluh sembilan tahun
bertualang.[j] Manakala meriwayatkan kembali petualangan-petualangannya untuk
dicatat oleh Ibnu Juzay, Ibnu Batutah hanya mengandalkan ingatannya, dibantu
naskah-naskah yang dihasilkan oleh para musafir terdahulu. Ibnu Juzay tidak
menyebutkan sumber-sumber rujukannya, dan menyajikan sejumlah keterangan yang
dikutip dari naskah-naskah lain seakan-akan ia dengar langsung dari mulut Ibnu
Batutah. Manakala menuliskan uraian tentang Damaskus, Mekah, Madinah, dan
beberapa tempat lain di Timur Tengah, ia jelas-jelas menyalin ayat-ayat dari
catatan musafir Andalusia, Ibnu Jubair, yang ditulis lebih dari 150 tahun
sebelumnya.[139] Demikian pula sebagian besar uraian Ibnu Juzay tentang
tempat-tempat di Palestina sebenarnya disalin dari catatan perjalanan seorang
musafir abad ke-13 yang bernama Muhammad Al-Abdari.[140]
Para pengkaji tidak percaya bahwa
Ibnu Batutah benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat yang
diriwayatkannya. Mereka berpendapat bahwa Ibnu Batutah mengandalkan kabar angin
dan mengutip riwayat-riwayat perjalanan para musafir terdahulu dalam menyajikan
gambaran komprehensif dari tempat-tempat di Dunia Islam. Sebagai contoh, sangat
mustahil Ibnu Batutah melakukan perjalanan memudiki Sungai Volga dari Kota
Sarai Baru menuju Bolgar,[141] dan sejumlah perjalanan lain yang ia riwayatkan
sangat diragukan kebenarannya, misalnya perjalanan ke Kota Sana di Yaman,[142]
perjalanan dari Balkh menuju Bistam di Khorasan[143] dan perjalanan keliling
Anatolia.[144] Riwayat Ibnu Batutah tentang seorang tokoh Magribi bernama
"Abu Al-Barakat Si Orang Berber" yang menyebarkan agama Islam di
Maladewa bertentangan dengan riwayat dalam "Tarikh", catatan sejarah
resmi Maladewa, bahwasanya masyarakat Maladewa masuk Islam setelah menyaksikan
mukjizat yang diperbuat oleh seorang tokoh Tabrizi bernama Maulana Syekh Yusuf
Syamsudin.[145] Beberapa pengkaji juga malah meragukan apakah ia benar-benar pernah
berkunjung ke Tiongkok.[146] Seluruh pengalaman dan penggambaran tentang Negeri
Tiongkok mungkin saja dijiplak Ibnu Batutah dari karya-karya pujangga lain
seperti "Masalikul Absar fi Mamalikul Amsar" karya Syihab Al-Umari,
karya tulis Sulaiman At-Tajir, dan mungkin pula dari karya-karya Al-Juwaini,
Rasyidudin, dan dari salah satu hikayat Aleksander Agung. Selain itu, riwayat
Ibnu Batutah dan catatan perjalanan Marco Polo memiliki kemiripan bagian dan
tema, bahkan beberapa ulasannya pun mirip. Agaknya mustahil pula bahwasanya ada
seorang tokoh dengan nama yang persis sama dengan nama khalifah ketiga, yakni
Utsman bin Affan, pernah bertemu dengan Ibnu Batutah di Negeri Tiongkok,
sebagaimana yang diriwayatkannya.[147] Namun andaikata tidak sepenuhnya disusun
berdasarkan pengalaman pribadinya, Ar-Rihlah Ibnu Batutah tetap saja merupakan
sebuah karya tulis yang berisi keterangan-keterangan penting mengenai keadaan
dunia pada abad ke-14.
Ibnu Batutah sering kali
mengalami guncangan budaya di negeri-negeri yang ia kunjungi, manakala
adat-istiadat dari masyarakat pribumi yang baru saja masuk Islam tidak selaras
dengan adab masyarakat Muslim ortodoks yang telah mendarah daging dalam dirinya.
Ketika berada di tengah-tengah masyarakat Turki dan Mongol, ia takjub melihat
kebebasan dan penghormatan yang dinikmati kaum perempuan. Ia mengungkapkan
pendapatnya dalam Ar-Rihlah bahwa bilamana melihat sepasang suami istri Turki
di sebuah bazar, orang akan keliru menyangka bahwa si lelaki adalah pelayan si
perempuan, bukan suaminya.[148] Ia juga merasa bahwa bahwa cara berbusana di
Maladewa dan beberapa kawasan Sub-Sahara di Afrika terlalu terbuka.
Sedikit saja yang diketahui orang
tentang riwayat hidup Ibnu Batutah seusai Ar-Rihlah rampung ditulis pada 1355.
Ia diangkat menjadi kadi di Maroko, dan wafat pada 1368 atau 1369.[149]
Ar-Rihlah Ibnu Batutah baru
dikenal orang di luar Dunia Islam pada permulaan abad ke-19, manakala musafir
sekaligus penjelajah Jerman yang bernama Ulrich Jasper Seetzen (1767–1811)
mendapatkan sekumpulan naskah di Timur Tengah, di antaranya terdapat sejilid
naskah sepanjang 94 halaman berisi salah satu versi ringkas dari Ar-Rihlah Ibnu
Batutah yang disusun oleh Ibnu Juzay. Tiga saduran diterbitkan pada 1818 oleh
orientalis Jerman, Johann Kosegarten.[150] Saduran keempat diterbitkan setahun
kemudian.[151] Para pengkaji Prancis mengetahui kabar tentang penerbitan
perdana ini melalui ulasan bedah buku yang dimuat panjang lebar dalam Journal
de Savants oleh orientalis Prancis, Silvestre de Sacy.[152]
Tiga naskah salinan Ar-Rihlah
Ibnu Batutah versi ringkas didapatkan oleh musafir Swiss, Johann Burckhardt,
dan dihibahkan kepada Universitas Cambridge. Johann Burckhardt menulis sebuah
prakata singkat mengenai isi naskah-naskah itu dalam sebuah buku yang baru
terbit pada 1819, sesudah ia wafat.[153] Naskah Ar-Rihlah Ibnu Batutah dalam
bahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh orientalis Samuel Lee,
dan diterbitkan di London pada 1829.[154]
Pada era 1830-an, semasa
pendudukan Prancis di Aljazair, Bibliothèque nationale de France (BNF) di Paris
mendapatkan lima naskah Ar-Rihlah Ibnu Batutah, dua di antaranya dalam kondisi
utuh.[k] Salah satu naskah yang hanya memuat paruh kedua dari keseluruhan isi
Ar-Rihlah, diperkirakan berasal dari tahun 1356, dan diyakini ditulis oleh Ibnu
Juzay sendiri.[159] Naskah-naskah BNF digunakan pada 1843 oleh orientalis
Irlandia-Prancis, Baron de Slane, untuk menghasilkan sebuah terjemahan ke dalam
bahasa Prancis dari riwayat kunjungan Ibnu Batutah ke Sudan.[160] Naskah-naskah
ini juga diteliti oleh para ilmuwan Prancis, Charles Defrémery dan Beniamino
Sanguinetti. Sejak 1853, mereka menerbitkan serangkaian karya tulis yang
terdiri atas empat jilid berisi ulasan hasil kajian atas teks Arab dari
Ar-Rihlah Ibnu Batutah dilengkapi sebuah terjemahannya ke dalam bahasa
Prancis.[161] Dalam prakata mereka, Defrémery dan Sanguinetti memuji
catatan-catatan penjelasan yang dibuat Samuel Lee, namun mengkritik hasil
terjemahannya yang menurut mereka tidak begitu tepat, bahkan kalimat-kalimat
yang lugas sekalipun pada pandangan mereka tidak diterjemahkan dengan tepat.[l]
Pada 1929, tepat seabad sejak
karya terjemahan Samuel Lee diterbitkan, sejarawan dan orientalis Hamilton Gibb
menerbitkan sebuah terjemahan ke dalam bahasa Inggris atas bagian-bagian
tertentu dari teks Arab yang termuat dalam karya tulis Defrémery dan
Sanguinetti.[163] Hamilton Gibb pernah menawarkan jasa kepada Hakluyt Society
pada 1922 untuk menyusun sebuah karya terjemahan dari keseluruhan Ar-Rihlah ke
dalam bahasa Inggris disertai catatan-catatan penjelasan.[164] Teks hasil
terjemahannya akan ia bagi menjadi empat jilid buku, masing-masing jilid ini
memuat bagian yang sama dengan yang dimuat dalam jilid-jilid buku karya
Defrémery dan Sanguinetti. Jilid pertama baru terbit pada 1958.[165] Hamilton
Gibb wafat pada 1971, setelah merampungkan tiga jilid pertama. Jilid keempat
susun oleh Charles Beckingham, dan diterbitkan pada 1994.[166] Cetakan karya
terjemahan Defrémery dan Sanguinetti kini telah diterjemahkan ke dalam banyak
bahasa lain.
Sumber : DISINI
Copyright © TESA TOTUANGGAULU | Blogger Theme by BloggerThemes